Sabtu, 09 Juni 2012

You Are Not Alone (by : Admin Nano Kid)

Diposkan oleh Kumpulan fanfiction di 20.39






You Are Not Alone
By: NaNo Kid

Naruto © Masashi Kishimoto

Rated: K+

Genre: Friendship & Romance

Pair: Minato N. & Kushina U.

Chapter 1:
Introduce
.
.
.
Akademi Konoha.

Sebuah tempat dimana para bocah yang akan menjadi ninja berlatih disini dengan bimbingan dari para jounin berpengalaman. Pada umumnya, mereka hanya dilatih ninjutsu-ninjutsu dasar, baru setelah mereka lulus dari akademi, mereka akan menjadi genin lalu masuk kedalam tim yang masing-masing beranggotakan 3 orang serta seorang jounin yang akan mendidik mereka hingga ujian chuunin datang. Setelah itu, mereka akan dilepaskan dari tim dan berlatih sendiri agar bisa menjadi seorang jounin. Dan begitulah hingga mereka bisa menjadi shinobi yang hebat.

Dan tampaknya, di Akademi Konoha kali ini, sedang ada keributan kecil yang menggemparkan.

“Tomat!”

“Hei, tomat! Wajahmu sangat mirip dengan tomat yang baru ibuku beli di pasar!”

“Lihat! Ada tomat terbesar didunia! Hahaha,”

Segerombolan bocah laki-laki nakal sedang mengejek seorang bocah perempuan dengan bercirikan rambut panjang dan lurus berwarna merah, mata yang beririskan violet, serta wajah yang terlihat cukup bulat. Karena rambut merahnya dan wajahnya yang bulatlah membuat bocah perempuan tersebut dipanggil denga sebutan “tomat”. Walau begitu, tampaknya bocah perempuan itu tidak mengiraukannya, atau sedang berusaha untuk menahan amarah yang sebentar lagi akan meledak?

Sepertinya diantara kesua pilihan itu tidak ada yang benar.

BUAGH!

Seorang bocah laki-laki yang ikut mengejek bocah perempuan tadi terpental hingga menabrak dinding akademi itu lalu tersungkur tak berdaya ke lantai. Hal itu disebabkan oleh tinjuan maut dari bocah perempuan berambut merah tersebut. Dengan rambut merahnya yang mulai mengambang dan berkibar serta wajah yang mengerikan, bocah itu siap untuk menghajar siapapun yang mengejeknya tadi tanpa ampun.

BUKK! JDUKK!! BUAAGHH!!!

“BERHENTI MEMANGGILKU TOMAT, BOCAH INGUSAN!!” teriak bocah perempuan itu sambil terus menghajar bocah-bocah yang mengejeknya tadi.

“I—itu, Ha—HABANERO BERDARAH!!” seru salah satu dari bocah-bocah tersebut histeris sambil menunjuk bocah perempuan itu dengan jari telunjuk kanannya, membuat yang ditunjuk tadi mendelik ke arahnya dan bocah tersebut kabur sejauh mungkin.

Dan hasilnya dimenangkan oleh bocah perempuan berambut merah itu.

Setelah puas menghajar bocah-bocah yang menurutnya menyebalkan itu, bocah perempuan itu melangkah pergi meninggalkan tempat ia menghajar bocah-bocah tadi diiringi dengan tatapan ketakutan dari semua bocah yang menyaksikan kejadian tersebut ke arahnya. Namun, bocah perempuan itu tidak menghiraukannya dan berjalan menuju sebuah pohon tua yang kokoh dan tidak ada bocah yang menempatinya atau bermain disekitarnya. Dan setelah sampai, ia langsung memanjat pohon itu dan duduk disalah satu dahan pohon tersebut. Bocah itu hanya memandang sendu ke arah bocah-bocah yang sedang asyik bermain dilapangan akademi itu.

Yaah, walau sebenarnya bocah perempuan berambut merah panjang tersebut sedang melamun.

Bocah perempuan itu bernama lengkap Uzumaki Kushina. Ia sebenarnya berasal dari desa Uzushio, yang berada di negara Uzu. Namun, karena desa serta negaranya telah hancur karena peperangan, ia yang memiliki kemampuan khusus akhirnya dibawa ke Konoha bersama ibunya yang terluka parah karena suatu alasan yang belum diketahui olehnya. Bocah itu juga berasal dari sebuah klan Uzumaki, klan yang terkenal paling hebat di desa Uzushio, bahkan di negara Uzu. Dan kini, ia dan ibunya sepertinya akan menetap di negara Hi, atau lebih tepatnya di desa Konoha. Ayahnya telah gugur dalam peperangan. Dan sampai sekarang, ibunya masih koma di rumah sakit akibat luka fatalnya.

Bocah yang bernama Kushina itu hanya bisa menghela nafas panjang bila mengingat itu semua. Bagaimana tidak? Baru hari ini ia masuk kedalam Akademi Konoha, ia sudah diejek oleh bocah-bocah nakal itu, dan sejak ia menghajar bocah-bocah tersebut, ia mulai dijauhi oleh bocah-bocah di akademi itu karena takut dengannya. Hal itu membuatnya sedih. Padahal, ia baru beberapa hari berada di Konoha yang terasa asing baginya.

Dan sekarang, Kushina hanya bisa meratapi nasibnya. Dimulai dari hancurnya desa serta negara yang merupakan tempat tinggalnya, ayahnya meninggal, ibunya yang tidak sadarkan diri di rumah sakit, ia yang dibawa ke Konoha karena suatu alasan, hingga ia yang dijauhi oleh bocah-bocah di akademi. Hal buruk apalagi yang akan menimpanya?

Tentang alasan ia dibawa ke Konoha, ia memang tidak tahu dan tidak pernah diberitahu sama sekali. Kushina merasakan firasat buruk akan alasan itu.

Dan sepertinya, Kushina tidak tahu bahwa alasan itu adalah sebuah bencana untuknya nanti.
.
.
.
“Hei, Uzumaki! Kau sedang apa?” sebuah suara mengagetkan Kushina dan membuat lamunannya buyar. Kemudian ia melirik kekanan dan kekiri untuk mencari asal suara tadi. Ia yakin kalau suara tadi sangat dekat dengannya, bukan suara yang berasal dari bocah-bocah yang sedang asyik bermain itu, namun, ia tak menemukan siapa-siapa selain bocah-bocah itu. Kushina mengira kalau suara itu hanya halusinasinya saja karena ia memang sangat kesepian akhir-akhir ini sehingga ia berharap ada bocah yang mau menyapanya, bukan mengejeknya. Karena itu, akhirnya ia kembali melanjutkan aktivitas melamunnya yang sempat terhenti.

“Uzumaki! Aku disini! Di atasmu!” seru suara itu lagi dan membuat Kushina tersentak dan segera mendongakkan wajahnya ke atas untuk mencari asal suara tersebut.

Dan tampaklah sesosok bocah laki-laki yang sebaya dengannya, bercirikan rambut jabrik acak-acakkan berwarna kuning dan matanya yang beririskan biru safir, sedang duduk didahan pohon yang terletak di atas Kushina sambil menyengir lebar ke arahnya.

“Hai, Uzumaki!” sapa bocah laki-laki itu masih dengan cengiran lebarnya. Sedangkan yang disapa hanya menatap lurus ke arah bocah laki-laki itu dengan tatapa kosong, tanpa membalas sapaannya. Ia masih tak percaya kalau akhirnya ada juga yang mau menyapanya. Kushina sebenarnya ingin membalas sapaan bocah itu, namun, karena masih curiga kepada bocah laki-laki tersebut, akhirnya ia tidak membalas sapaanya.

“Hei! Kenapa diam saja? Kau baik-baik saja, Uzumaki?” tanya bocah laki-laki itu khawatir karena Kushina sedaritadi hanya menatapnya kosong. Namun, Kushina masih tidak merubah tatapan kosongnya.
.
.
.
Kushina’s P.O.V

Dia—apa aku tidak salah dengar? Dia menyapaku? Kupikir aku tak akan pernah menemukan anak yang mau menyapaku. Tapi, dia—benar-benar menyapaku. Bahkan saat aku tidak membalas sapaannya, dia malah terlihat seperti—



—mengkhawatirkanku? Kenapa? Selama aku berada didesa ini, belum ada yang pernah mengkhawatirkan keadaanku, bahkan ibuku saja tak mengkhawatirkanku, karena beliau koma. Selain itu, juga Sandaime—hokage ketiga—saja yang mengkhawatirkan keadaanku. Selain itu, tidak ada! Tapi, aku merasa curiga. Apa maksudnya? Apa maksudnya dia menyapaku? Kupikir dia sama saja dengan bocah-bocah lain yang menjauhiku. Dan kupikir, dia akan menjauhiku juga karena aku tak membalas sapaannya tadi dan malah menatapnya kosong.

Dan kupikir, tidak akan ada lagi yang mau mempedulikanku.

Kenapa? Kenapa?

End of Kushina’s P.O.V
.
.
.
“Uzumaki? Kau—kenapa daritadi hanya diam? Apa aku harus membawamu ke UKS?” tanya bocah laki-laki tersebut sambil melompat turun menuju dahan tempat Kushina duduk. Kushina menundukkan kepalanya saat bocah laki-laki berambut pirang jabrik acak-acakkan telah duduk disampingnya sambil menatapnya dengan cemas.

Bocah laki-laki itu mengulurkan tangannya dan mengarahkannya ke jidat Kushina lalu menyingkirkan sedikit rambut-rambut merah Kushina agar ia bisa menyentuh jidatnya. Saat bocah itu akan menempelkan tangannya di jidat Kushina, Kushina langsung menggenggam tangan bocah laki-laki tersebut sehingga tertahan dan tertahan.

“Kau—Kenapa kau menyapaku?” tanya Kushina dengan suara yang sedikit parau.

“Eh? Yaa—karena ingin berteman, bukan? Memangnya karena apa lagi? Daritadi kuperhatikan, kau sendirian saja sejak masuk akademi ini. Jadi, aku ingin berteman denganmu, kau mau, kan?” jelas bocah laki-laki tersebut dengan cengirannya yang sepertinya menjadi khas-nya. Kushina kaget saat mendengar pernyataan dari bocah tersebut. Seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, Kushina menoleh ke arah bocah tersebut, dan dengan senyum mirisnya, ia berkata, “Terima kasih, telah bersedia menjadi temanku,” setelah mengatakan itu, Kushina segera melompat dari pohon tersebut dan berlari menuju kelasnya dengan senyuman—bukan senyum miris—lebarnya. Sedangkan bocah laki-laki itu hanya bengong karena Kushina meninggalkannya begitu saja.

Lalu, saat Kushina belum terlalu jauh darinya, bocah itu langsung berteriak dan berseru, “Hei, Uzumaki! Namaku Namikaze Minato! Senang berkenalan denganmu,” Kushina yang mendengar seruan dari bocah yang ternyata bernama Minato itu segera menoleh ke belakang—tepatnya ke arah Minato—dan tersenyum kecil sehingga Minato tak akan menyadari senyuman tersebut karena jarak mereka yang cukup berjauhan.
.
.
.
“Aku pulang,” seru Kushina bersamaan dengannya membuka pintu. Namun, tak ada jawaban dari siapa pun disana.

“Ibu belum kembali, ya?” tanya Kushina—atau gumaman—pada dirinya sendiri. Kushina beranjak dari tempat ia berdiri tadi dan menuju kamarnya.

Kushina tinggal disebuah rumah kecil namun cukup untuk mereka berdua—Kushina dan ibunya—. Namun, karena untuk sementara ibu Kushina berada di rumah sakit, jadi, rumah itu terasa luas untuk Kushina sendirian. Rumah itu diberikan oleh Sandaime, karena mereka tak mempunyai tempat tinggal di Konoha.

BRUKK!

Kushina menghempaskan tubuhnya di atas kasur kecilnya. Ia masih menerawang tentang kejadian-kejadian yang dialaminya di akademi. Dari perkenalan diri di depan kelas, bocah-bocah nakal yang mengejeknya, aksinya saat ia menghajar bocah-bocah yang mengejeknya, ia yang dijauhi oleh bocah-bocah lainnya karena takut padanya, hingga akhirnya seorang bocah laki-laki yang tiba-tiba menyapanya dan mengkhawatirkannya juga ingin berteman dengannya.

Hmm, bicara tentang bocah laki-laki itu, Kushina jadi teringat ketika ia yang hendak berlari menuju kelasnya, bocah itu memperkenalkan dirinya. Namun, Kushina lupa nama bocah tersebut entah karena apa. Kushina merutuki dirinya sendiri. Entah sejak kapan ia menjadi pelupa seperti ini. Biasanya, ia sangat cepat mengingat sesuatu. Sepertinya, karena shock saat perang serta kematian ayahnya, ia mulai menjadi pelupa—sepertinya—.

Kushina berusaha keras untuk mengingat siapa nama bocah laki-laki berambut jabrik acak-acakan berwarna kuning tersebut. Akan tetapi, karena terlalu lelah dar tadi pagi, tanpa sadar ia telah masuk kea lam bawah sadarnya dengan tenang.
.
.
.
Ini adalah hari kedua ia telah masuk ke Akademi Konoha. Memang tidak ada hal yang istimewa untuknya, tapi baginya, hari ini adalah hari yang istimewa. Bahkan sangat istimewa. Kushina tersenyum lebar ketika mengingat tentang apa yang baru saja ia dengar tadi malam.
.
.
.
Flashback

Kushina terbangun dari tidurnya. Ketika ia telah membuka mata dengan sempurna, ia baru sadar kalau hari sudah malam.

“Pantas saja aku merasa lapar. Ternyata, dari siang tadi, aku belum makan sama sekali,” gumam Kushina pelan lalu berjalan menuju ke dapur kecilnya, sambil menyalakan lampu-lampu di beberapa ruangan. Biasanya, ada seorang wanita yang selalu mengantarkan makanan—karena Kushina belum pandai memasak—ke rumahnya. Walaupun sedikit, tapi bagi Kushina itu sudah cukup untuk mengganjal perutnya—walau masih lapar—. Namun, kali ini ia tak menemukan apapun di atas meja. Kushina heran dan mencoba mencari alasan positif mengapa wanita—yang biasa mengantarkan makanan—itu tidak mengantarkan makanannya kali ini? Tidak mungkin wanita itu sudah muak karena harus memberikan sebagian makanannya ke rumah Kushina, walaupun Kushina berasal dari desa lain. Karena itu, Kushina hanya menduga bahwa wanita itu sakit atau sedang menjalankan misi hingga ia belum bisa pulang.

Saat Kushina sedang sibuk untuk menduga-duga alasan tersebut, tiba-tiba pintu rumahnya diketuk oleh seseorang. Kushina segera beranjak dari dapur itu dan segera melangkahkan kakinya menuju pintu. Ia menebak bahwa orang yang menetok pintu itu adalah wanita yang akan mengantarkan makanannya. Namun, sepertinya tebakan Kushina salah.

Tampaklah seorang laki-laki dari ANBU dengan menggunakan seragam serta tak ketinggalan topeng ANBU. Kushina hanya bisa mendesah kecewa ketika mengetahui bahwa bukan wanita itu yang datang.

“Uzumaki Kushina, anda dipanggil oleh Tuan Sandaime. Ia mengatakan bahwa ada berita gembira untukmu,” ujar ANBU tersebut dan membuat Kushina menaikkan sebelah alisnya. Ketika Kushina hendak bertanya, ANBU tersebut langsung mendahuluinya.

“Diharapkan agar anda dapat segera ke ruang hokage,” setelah mengatakan kalimat itu, sang ANBU tersebut langsung menghilang entah kemana. Karena tidak ingin direpotkan, akhirnya dalam keadaan perut –atau lebih tepatnya lambung—Kushina segera pergi menuju kantor hokage, tak lupa untuk mengunci pintu rumahnya.
.
.
.
Tok, tok!

“Yaa, masuk!” seru Sandaime sambil menghisap rokoknya. Setelah diperbolehkan masuk, orang yang mengetuk pintu tersebut segera masuk kedalam ruangan tersebut dan langsung bertanya.

“Apa berita gembira yang akan kau sampaikan, Sandaime?” ternyata orang yang mengetuk pintu dan langsung bertanya begitu saja adalah Uzumaki Kushina. Sedangkan yang ditanya belum menjawab sama sekali, hanya menghembuskan asap rokok yang keluar dari mulutnya. Karena telah ditunggu selama beberapa menit, akhirnya Kushina kehilangan kesabaran dan segera bertanya kembali dengan nada yang sedikit kasar dan sedikit berteriak.

“Apa yang sebenarnya ingin kau katakan, Sandaime?” Kushina memang tidak peduli biarpun sikapnya tadi adalah tidak sopan. Namun, sepertinya hokage ketiga tersebut tidak keberatan jika Kushina seperti itu. Kushina memang memiliki kelemahan, yaiu tidak bisa mengontrol emosi, sehingga bila ada seseorang yang membuatnya marah dan emosinya naik, maka ia tak segan-segan dan segera melampiaskan emosinya itu kepada orang yang telah memancing emosinya.

“Kenapa kau begitu terburu-buru, Kushina?” tanya Sandaime itu dengan suara serak yang memang sudah umum bila usia telah memasuki tujuh puluhan.

“Pokoknya, cepat katakan!” pinta Kushina dengan nada yang memerintah.

“Haaah,” Sandaime hanya bisa menghela nafas panjang saat menghadadapi Kushina.

“Baiklah, Kushina, pergilah ke Rumah Sakit Konoha, temuilah ibumu, karena—” sepertinya Sandaime sengaja menggantungkan kalimatnya agar Kushina penasaran tentang apa berita gembira tersebut.

“—ibumu telah sadarkan diri dan sekarang, ia baik-baik saja,”

Kushina membelalakkan matanya seakan tak percaya, tampak raut wajah terkejut pada wajahnya. Namun, itu hanya sebentar. Setelah mencerna dengan baik perkataan hokage ketiga tersebut, senyum lebarnya mengembang diwajah polosnya. Ia tampak sangat gembira akan berita tersebut. Karena akhirnya ibunya telah sadar dari pingsannya yang cukup lama—selama 3 hari—.

“Benarkah? Iyyees! Ibu, akhirnya kau sadar juga!” seru Kushina riang dan segera berlari keluar dari ruang hokage tanpa pamit dahulu. Sedangkan Sandaime yang melihat sikap Kushina tersebut hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
.
.
.
T S U Z U K U
[word 2.175]

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Our FanFiction ;) Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting