Minggu, 17 Juni 2012

Far... Or Near? (by admin Tsuki-K)

Diposkan oleh Kumpulan fanfiction di 01.26
Title : Far... Or Near?
Far... Or Near? (c) Tsuki-K 1412, but Detective Conan (c) Gosho Aoyama
Genre : romance, friendship, hurt
Rated : T
Entah kenapa pengen bikin fic yang genre-nya hurt. Tapi nggak bakal ada chara death, saya paling nggak seneng kalo ada chara death, apalagi chara protagonis. Dan maaf kalau para karakternya jadi OOC banget. Selain itu, alurnya juga kelewat cepet. Cukup deh ya, basa-basinya. Happy reading~
Summary : aku menunggumu, aku merindukanmu. Kapan kamu akan kembali? Aku bukan orang setegar Ran yang bisa menunggu lama...
.

Aku duduk dengan lemas di bangku taman yang sepi ini. Rambutku yang hanya sebahu berkibar pelan karena angin sepoi-sepoi. Disini sangat sunyi. Hening. Kutundukkan kepalaku, kuarahkan tatapan teduhku ke arah sepatu hijau yang kupakai. Aku merasa tenang jika hanya sendiri seperti saat ini. Aku bisa merenungkan sesuatu tanpa harus orang lain tahu. Aku bisa menangis sepuasnya tanpa harus orang lain tahu. Aku cinta sendirian.
“Hahaha...”
Tawa yang begitu riang menyeruak gendang telingaku. Aku mengangkat wajah dan menoleh. Sekelompok anak-anak sedang berjalan bersama dengan pakaian serba putih yang disertai... sabuk. Ada yang berwarna biru, cokelat, dan hitam. Dan aku langsung mengerti, mereka pasti anak-anak..., karate?
“Tak kusangka, aku bisa mengalahkan Kaiwa dari sekolah Misazaki itu!”
“Selamat, kawan. Aku juga berhasil mengalahkan adik Hoshiya yang tangguh itu!”
“Hahaha...”
Anak-anak itu mengobrol dengan bebas sambil berjalan. Semakin lama, tawa mereka semakin samar dan hilang, bersamaan dengan langkah kaki mereka yang semakin cepat, ingin segera menuju ke rumah masing-masing.
Aku tersenyum getir. Mereka tampak begitu riang karena berhasil memenangkan persaingan karate dengan musuhnya di sekolah lain, mungkin.
Sama dengan dia.
“Makoto...”
Tanpa sadar kugumamkan namanya. Kyogoku Makoto. Seorang karateka yang hebat, dan selalu menjuarai berbagai pertandingan. Selain itu... Makoto adalah kekasihku. Semenjak ia menyatakan perasaannya padaku beberapa bulan yang lalu, kami menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Aku masih ingat betapa lembut senyumannya ketika aku menerima cintanya.
Tapi tentu saja aku harus mengerti sesuatu. Ia adalah seorang karateka terkenal. Mau tak mau, aku harus rela jika berpisah dengannya sementara waktu, karena ia selalu berpindah-pindah tempat. Sudah sejak sebulan yang lalu, ketika ia berpamitan padaku. Ia akan segera mengikuti pertandingan di Paris. Jika menang, ia akan lanjut bertanding dengan lawan yang lebih tangguh. Sampai saat ini, Makoto belum juga pulang. Itu artinya, dia selalu menang, bukan?
Padahal baru dua minggu setelah kepulangannya dari Osaka. Tapi, ia sudah pergi lagi, kali ini lebih jauh. Ya, aku hanya berharap, hatimu tidak jauh dengan hatiku.
Kau tahu, Makoto? Disini aku begitu merindukanmu. Merindukan senyummu, merindukan kehangatanmu, merindukan matamu yang menatapku lembut dan penuh kasih sayang, seolah-olah aku adalah barang berharga yang sedikit saja disentuh, akan ternoda dan hancur.
“Makoto... pulanglah,”
Hanya dua kata yang kuucapkan dengan begitu lirih. Hanya aku sendirian disini, tak ada orang lain yang mendengar ini. Ya, aku merasa sedikit bodoh. Ralat, sangat bodoh. Sudah tahu tak ada orang lain, aku malah mengucapkan kata-kata itu.
Air bening perlahan memenuhi kedua pelupuk mataku. Pandanganku mengabur karena banyaknya air yang terbendung di dalam indera penglihatanku ini. Dan akhirnya tetesan air bening menuruni kedua pipiku. Semakin lama, air yang keluar dari mataku semakin deras. Aku terisak. Ya, menangis bisa membuatku lega...
“Sonoko?”
Suara yang terasa familiar itu masuk ke telingaku. Aku mengangkat wajah. Kudapati wajah seorang gadis berambut menyerupai tanduk sedang menatapku sambil tersenyum. Kurasa ia tahu, apa yang kupermasalahkan.
“Eh, ha—halo... Ran...” hanya itu yang keluar dari mulutku.
Aku tak sanggup menghapus air mataku. Ran sudah terlanjur melihatnya. Baiklah, untuk dia saja, sahabatku yang tersayang.
“Menangislah, Sonoko... menangislah. Itu bisa membuatmu lega, bukan? Menangislah...” ucap Ran lembut.
Gadis itu duduk di sebelahku. Aku merasa sangat tenang karena penuturannya barusan. Dia benar-benar gadis yang sangat lembut dan baik hati. Aku bersyukur memiliki sahabat seperti Ran.
Aku terisak semakin kencang. Mataku benar-benar sembab dan memerah. Kepalaku terasa pusing karena terlalu banyak menangis. Tapi itu tak kupedulikan. Saat ini, yang kupikirkan hanya dia, Kyogoku Makoto seorang.
“Ran... aku tidak tahu, bagaimana kalau aku jadi dirimu... sebulan ditinggal oleh Makoto saja, sudah membuatku hampir gila seperti ini. Sementara kau, Ran? Shinichi sudah meninggalkanmu sejak setahun yang lalu... detektif bodoh itu meninggalkanmu, setahun, Ran! Setahun! Kau tak selemah aku, Ran... aku mudah menangis. Ran, kau tegar sekali, ya...”
Gadis itu hanya menatapku lembut. Ia memegang tanganku. Aku balas menggenggamnya erat.
“Sonoko, aku juga lemah... aku pun bisa menangis. Kau pikir, aku tak pernah menangis? Jika iya, jauhkan pikiran konyol itu, Sonoko. Aku juga pernah menangis. Ralat, sering bahkan. Tapi aku berusaha menutupinya agar tak seorangpun tahu. Dan ini hanya akan kubagi denganmu, Sonoko... aku hanya percaya denganmu jika menyangkut hal ini...” Ran tersenyum.
Aku merasa sedikit terkejut. Tak kusangka, selama ini, tawa dan senyumnya hanyalah palsu. Ran yang selalu tampak ceria itu... sebenarnya, begitukah isi hatinya? Seperti itukah? Segelap itu?
“R—Ran...”
Aku memeluknya erat. Tak lama, kurasakan air hangat menetes di pundakku. Itu... air mata Ran. Ran menangis. Bahkan aku baru pernah melihatnya menangis saat ini saja. Dia benar-benar pandai menyembunyikan perasaannya. Aku salut. Sangat salut dengan gadis di pelukanku ini.
Suara isak tangis menembus keheningan taman ini.
Kami menangis bersama.
=-=-=
Sudah dua bulan setengah, sejak aku ditinggal oleh Makoto. Aku merasa sangat kesepian. Aku rindu dengannya. Sangat rindu. Berkali-kali aku berusaha menghubungi ponselnya, tapi nihil. Selalu tak ada jawaban. Ponselnya selalu di-silent.
Where are you, Makoto? I miss you so much... please, come back...’ batinku berbisik lirih.
“Memikirkan Kyogoku lagi, Sonoko?” Ran mengejutkanku dengan senyuman manisnya.
“Eh? R—Ran? Hahaha... um, begitulah...” aku menjawab dengan sedikit gugup.
“Sabarlah, Sonoko... dia pasti akan datang untuk orang yang disayanginya,” Ran menepuk pundakku dengan sangat lembut.
Mau tak mau, wajahku menghangat. “Um... ya, kuharap seperti itu.”
Aku kembali menatap paras manis sahabatku. Senyumnya begitu tulus dan indah. Ia benar-benar pandai menyembunyikan perasaan. Padahal, aku sendiri tahu, dia pun memikirkan si Shinichi—detektif bodoh—itu. Aku benar-benar merasa lemah di hadapan Ran.
Gomen, Sonoko... aku harus pergi. Conan-kun mengajakku pergi ke pesta kembang api untuk malam ini. Sekarang sudah pukul lima lewat. Kau tidak pulang juga?” Ran beranjak dari tempat ia duduk.
“Oh... iya, baiklah. Aku juga akan pulang. Kalau bisa, aku akan pergi ke pesta kembang api itu juga, ya, Ran!” aku ikut beranjak dari tempat dudukku.
Douzo, Sonoko. Tak ada yang melarang. Baiklah, sampai ketemu di pesta kembang api nanti malam! Jaa ne!” Ran melambaikan tangannya padaku, kemudian pergi menuju ke kantor detektif Mouri—rumahnya.
Ya, setidaknya, pesta kembang api malam ini bisa membuatku sedikit lebih tenang. Aku ingin lebih santai saja.
=-=-=
Aku memakai yukata berwarna ungu muda dengan motif bunga sakura. Di bagian pinggang, aku memakai sabuk khusus yukata yang berwarna merah muda. Sandal kayu yang kupakai juga berwarna ungu, namun lebih tua. Aku memakai bando seperti biasanya di rambutku, namun kali ini disertai jepit rambut yang manis.
“Okaa-san, aku berangkat sekarang, ya!” pamitku pada Okaa-san.
“Iya, Sonoko! Hati-hati!” balasnya sambil melambaikan tangan padaku.
Aku mulai berjalan menuju lokasi pesta kembang api. Akhirnya setelah lima menit melangkah, aku menemukannya. Kebetulan sekali, di depan sana ada Ran dan bocah yang tinggal di rumahnya itu. Aku segera menghampirinya.
“Ran!”
Gadis itu menoleh. “Sonoko! Hai.”
“Hai! Kau tampak cantik, Ran.” aku memandang kagum pada Ran yang memakai yukata berwarna biru muda itu.
Ran tersipu. “Ah, bisa saja, kau. Arigatou! Anata wa kawaii, Sonoko.”
“Hehehe, arigatou!” balasku dengan cengiran khas-ku.
Kami mulai berjalan-jalan mengelilingi tempat itu. Yah, selagi menunggu kembang api, kami membeli takoyaki dulu, hitung-hitung untuk mengganjal perut yang sudah lapar.
“Ran-neechan, takoyaki yang kita beli disana benar-benar lezat, ya!” bocah berkacamata itu—Conan, berbicara sambil mengunyah takoyakinya dengan lahap.
“Conan-kun, kan sudah kubilang, jangan makan belepotan...” Ran mendekatkan wajahnya ke wajah bocah itu, lalu mengelap saus takoyaki yang ada di pipi Conan dengan jari telunjuknya.
Perasaanku saja, atau aku memang sempat melihat sedikit rona merah di pipi bocah itu?
“Hm, hahaha,” aku tertawa tertahan. Entah kenapa aku melihat Conan mirip dengan Shinichi.
DUAAAR... DUAAAR...
Aku, Ran dan Conan sontak melirik ke langit. Kembang api diluncurkan dengan susul-menyusul. Begitu banyak dan beraneka ragamnya. Tanpa sadar aku menyunggingkan senyum.
“Bagus, ya...” gumamku.
“Benar.” sepertinya Ran mendengar gumamanku yang cukup pelan itu.
“Ran, aku pergi sebentar, ya. Ingin melihat kembang api dengan lebih dekat, sih,” ucapku sambil melambaikan tangan. “Dah!”
“Ya, cepat kembali, Sonoko!”
Aku sedikit berlari menuju tempat rahasiaku. Ah, itu dia, di sebelah kiri kios kembang api. Tempatnya hijau dan tersembunyi. Aku pun tersenyum dan berhenti berlari. Dengan tenang, aku duduk di rumput hijaunya yang bersih itu. Kembang api begitu terlihat jelas disini. Aku merasa sangat tenang. Tempat ini cukup sunyi dan berada di sebelah sungai yang jernih. Di dalamnya ada ikan hias yang berenang-renang riang, seakan ikut menikmati kembang api yang terus berlomba-lomba meramaikan langit malam Tokyo.
“Sedang bersantai, Sonoko?”
Suara yang familiar itu mengejutkanku. Nafasku tercekat begitu aku melihat sosoknya. Pemuda itu tengah tersenyum sambil menatapku dengan tatapannya yang lembut, yang begitu kurindukan. Senyumnya yang mampu membuatku hampir lupa cara bernafas... dia... ada di depanku? Ini mimpi.
“Makoto... kaukah itu?” akhirnya aku membuka mulut.
“Siapa lagi selain aku, Kyogoku Makoto,” pemuda itu kembali menyunggingkan senyumnya.
Aku mencubit pipiku. Sakit. Aku... aku tidak bermimpi! Makoto ada di hadapanku, Makoto disini!
“Ukh... huwaaa...” kebiasaan cengengku kembali kambuh.
Aku memeluk Makoto dengan erat. Aku tak peduli apa-apa lagi saat ini. Aku benar-benar senang, sangat senang! Air mataku terus mengalir dengan deras.
“Sudah, Sonoko... biarkan aku bernapas dulu,” gurau pemuda itu sambil melepas pelukanku.
“Oh, um, gomen... aku terlalu merindukanmu.” aku melepaskan pelukannya sambil menunduk malu.
“Benarkah? Oh... te—terima kasih, sudah merindukanku,” ucapnya dengan pelan. Pipinya memerah. Ia sedikit memalingkan wajahnya.
“Ya,” aku tersenyum.
“Makoto... kemana saja kau selama ini? Kau membuatku hampir gila dalam dua setengah bulan, kau tahu? Dan bagaimana hasil pertandinganmu?”
Pemuda itu terdiam sejenak mendengar tuturanku.
“Ah, hontou ni gomenasai, Sonoko... tenang saja, aku telah kembali. Aku akan disini bersamamu. Pertandingannya begitu banyak. Aku selalu lolos ke tahap berikutnya karena selalu menang. Dan akhirnya, aku pun memenangkannya. Ini, medali emas milikku. Untukmu, love.” Makoto menunjukkan medali emas yang ada di dalam kantung celananya.
Dan sekali lagi aku merasakan wajahku memanas mendengar panggilannya untukku.
Oh my God! Makoto! Benda ini, kan, berharga sekali untukmu! Aku tidak mau menerimanya!” aku menolak medali emas yang disodorkan oleh Makoto.
“Tidak, tidak, kau harus menerimanya, Sonoko. Kau harus. Saat ini, mungkin aku hanya bisa memberikan medali emas seperti ini. Tapi... tunggulah! Ketika kita beranjak dewasa nanti, aku berjanji akan membelikanmu cincin emas, serta... melamarmu, tentunya...” Makoto tersenyum tulus. Senyuman yang sangat kurindukan.
Wajahku menjadi sumringah mendengar perkataannya. Kembali kupeluk dengan erat bahunya yang hangat itu.
I love you, Makoto!”
Love you, too.”
Malam ini terasa begitu indah. Kembang api seakan menjadi latar kisahku yang sudah dimulai dengan begitu unik ini...
===OWARI===

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Our FanFiction ;) Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting