Jumat, 29 Juni 2012

In The Rain (by admin Tsuki-K 1412)

Diposkan oleh Kumpulan fanfiction di 02.23 1 komentar



Title : In The Rain
Detective Conan © Gosho Aoyama
In The Rain © Tsuki-K 1412
Genre : hurt, friendship
Rating : K+
Warning : aneh, abal, gaje, very short fic, dan lainnya silakan dinilai oleh readers sekalian.
.
Summary : “I love walking in the rain because no one knows I’m crying.” Apa? Tidak, salah. Buktinya, ia masih tetap bisa mengetahui bahwa aku menangis.
.
Tetesan air meluncur sedikit demi sedikit dari langit yang biru. Awan menjadi kelabu. Air pelahan meluncur. Semakin lama, semakin deras. Petir menyambar-nyambar meramaikan suara tetesan air yang menabrak daratan. Langit yang biru menjadi gelap.
Dan aku disini, bersamanya. Bersama Kudou Shinichi, di tengah hujan yang semakin lebat. Kami berjalan berdampingan menerobos hujan.
“Tidak dingin?” tanya Shinichi padaku.
“Tidak,” ucapku enteng. Walaupun aku berbohong. Dan, tubuhku jadi sedikit bergetar karena dingin.
“Tidak mau pakai jaketku?” Shinichi menawarkan kebaikan, namun kutolak halus.
“Tidak perlu, terima kasih,” jawabku. Namun tubuhku yang bergetar mendustai ucapanku.
“Pakai,” Shinichi melepaskan jaket miliknya, lalu memakaikannya padaku.
Hujan tak lagi menembus pakaianku. Aku tertegun. Rasanya memang... hangat. Shinichi tersenyum lembut padaku. Dan aku heran, mengapa ia tidak terlihat kedinginan sedikitpun? Oh, baiklah, aku tahu, aku tahu. Dia kan seorang detektif yang sering menembus hujan untuk  menangkap pelaku kejahatan. Kurasa ia sudah terbiasa.
“Terima kasih,” hanya itu yang kuucapkan padanya.
Shinichi hanya tersenyum.
Melihat awan yang kelabu... aku jadi teringat kedua orang tuaku. Mouri Kogorou dan Kisaki Eri. Mereka... sudah meninggal dunia ketika aku tiga belas tahun. Orang tuaku kecelakaan pesawat. Saat itu, awan tebal dan kelabu pekat tiba-tiba muncul tanpa ada tanda-tanda khusus, seperti mendadak. Komunikasi pilot menjadi agak sedikit terganggu. Pilot menjadi tak fokus karena awan tebal yang tiba-tiba muncul itu. Sampai akhirnya, pesawat kehilangan keseimbangan karena tidak dikendalikan dengan sempurna. Pesawat terjatuh di tanah Los Angeles. Sejak saat itu, biaya hidupku dibantu oleh bibiku yang bernama Sachi. Aku juga mencari kerja sampingan menjadi seorang pelayan toko kue.
Mataku memanas. Perlahan, air bening menghiasi pipiku. Sama seperti air hujan, bukan? Yang membedakan, air mata itu hangat, sedangkan hujan itu dingin. Aku hanya menangis terus tanpa suara atau isakan. Jadi, Shinichi tak akan tahu.
“Ran...” panggilnya halus padaku.
“Ya?” balasku pelan, masih menangis tanpa isakan.
“Apa kau... menangis?” tanya Shinichi, yang membuatku tersentak, tentu saja.
“I—itu, tentu saja... tidak!” elakku dengan agak gugup. Bagaimana ia tahu?
“Jangan bohong. Aku tau, lho...” Shinichi merendahkan nada suaranya.
Aku hanya menunduk. Kurasa tak ada gunanya membohongi seorang Kudou Shinichi yang memiliki pendirian keras kepala itu. Baiklah. Hanya padamu saja.
“Ya...” aku akhirnya mengaku, dengan jawaban yang lirih.
“Nah... ceritakanlah, apa yang membebanimu... aku akan mendengarkan...” ucap Shinichi lembut.
Aku menceritakan begitu saja insiden yang menimpa orang tuaku. Aku memberanikan diri untuk terisak. Isakan pilu ini... bukti bahwa aku rindu orang tuaku. Aku rindu. Dan aku hanya membagikan ini pada dia, sahabatku, Shinichi.
“Kenapa baru menceritakannya padaku sekarang? Sudahlah... tidak apa-apa. Aku mengerti... tenang saja, aku akan ada disini. Aku akan menemanimu...” Shinichi tersenyum lembut.
“Ya... terima kasih...” aku membalas senyumannya.
“Jadi... kau ingin maju lagi, kan? Tidak terpuruk seperti itu lagi? Jelek sekali kau jika sedang menangis.” ucap Shinichi sambil memberikan cengirannya yang lebar padaku.
“Hahaha... baiklah, iya! Dan jangan seenaknya memanggilku jelek!” aku tak bisa menahan tawa karena sifatnya yang jenaka. Dia bisa merubah suasana secepat ini, ya?
Dan kami hanya berlari menerobos hujan yang perlahan reda. Digantikan dengan pelangi yang menghias langit biru kelabu diatas sana.
Ibu, ayah, berbahagialah...
===OWARI===
Super pendek banget -,- fic paling pendek yang nekat di post ._.”
Dan maaf ya Aoyama-sensei, ga maksud saya bikin Kogoro sama Eri meninggal QwQ
Soalnya biar dapet feel-nya gitu, eh kayaknya ngga dapet feel-nya-_-
Hmm.. yasudahlah =3
Silakan like bagi yang menyukai, dan berikan komentar bagi yang ingin memperbaiki kesalahan-kesalahan saya disini. Bagi yang liat typo, kasih tau saya, ya! xD

Kamis, 28 Juni 2012

teaser End Of My Life (fanfiction).wmv

Diposkan oleh Kumpulan fanfiction di 22.53 0 komentar

Jumat, 22 Juni 2012

Like A butterfly (Admin Pie Cherry)

Diposkan oleh Kumpulan fanfiction di 23.43 0 komentar







Like A butterfly
Tittle : Like A Butterfly
Author : Pie Cherry
Main Cast : - Park Soo Ra
                     -Park Chan Yeol
                   
Genre : Romance, school life.
Rating : PG-13
Length : One Shoot (sepertinya sih .__.)
Note : Huahahahahah :D ini FF gak jelas bapaknya dan ibunya siapa (?)agak sedikit kurang dimengerti :D juga pembahasaannya yang aneh..hehe silahkan baca,jika merasa aneh dengan FF ini,silahkan hancurkan komputer anda sekarang juga :D

   **Pie Cherry /Author POV**
    Park Soo Ra berjalan dengan gontai,ia seolah patah semangat dengan hari ini—walaupun dia setiap hari selalu patah semangat—gadis itu menghentikan langkahnya,matanya tertuju pada sebuah mading besar yang penuh dengan segerombolan murid-murid yang terlihat berdesak-desakkan dengan yang lainnya.
    “hei! Apa kau bisa menjauh dari situ?”teriak seorang yeoja dari arah belakang,Soo Ra segera menyingkirkan tubuhnya dari mereka,yaitu gank yang paling ditakuti di setiap yeoja di sekolah ini. Mereka melewati Soo Ra dengan pandangan menghina,wajar saja karena mereka tidak pernah menganggap gadis itu ada,walaupun mereka satu kelas.
Soo Ra hanya tersenyum hambar,ia kemudian membalikkan badannya dan segera berlalu dari kerumunan.
     Brak!
Gadis itu terduduk lemas,ia baru saja tertabrak atau lebih tepatnya ditabrak oleh seorang namja yang jangkung.Namja itu hanya berdiri sambil mengedipkan matanya,sepertinya ia baru sadar telah menabrak seseorang—bahkan seorang yeoja—Tapi Yeoja itu hanya diam sambil menarik tasnya lebih erat.
     “Ma..maaf...kau tidak apa-apa?”tanya Chan Yeol sambil berlutut melihat kondisi yeoja yang tadi ditabraknya.Soo Ra hanya menunduk dan membersihkan beberapa debu di rok miliknya,ia merasa gugup—karena yang baru saja ia tabrak adalah kakak kelasnya—Chan Yeol segera mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu,tapi gadis itu seolah ragu dan takut?
     “tenang..aku takkan menyakitimu..”pelan Chan Yeol,ia bingung kenapa berkata seperti itu.
Soo Ra hanya mencoba menjauhkan wajahnya dari lelaki itu agar Chan Yeol tidak mengenalnya.Chan Yeol segera menarik tangan Soo Ra dengan lembut “oh..ayolah!”serunya.Soo Ra sedikit terkesima dengan perlakuan Namja itu tadi,tapi selebihnya ia justru merasa malu menjadi bahan tontonan pagi ini,bahkan ada yang memandangnya sinis akibat Chan Yeol berbaik hati padanya,wajar saja kalau sebenarnya Chan Yeol adalah orang yang selalu diincar oleh gadis-gadis di sekolah ini.
     “sepertinya kau tidak luka..”gumam Chan Yeol,Soo Ra hanya menunduk.Entah apa yang akan dilakukan kakak kelasnya ini pada dirinya.
     “aa..aa..ma..maaf O..Oppaa..sa..saya ha..harus..pergi..dulu..”ujar Soo Ra terbata-bata,ia takkan pernah dapat membayangkan jika seluruh gadis-gadis disekolah ini mengutuknya nanti jika dia semakin berani berdekatan dengan kakak kelasnya itu,Chan Yeol.
     “eh..tungguuu!”teriak Chan Yeol ketika melihat Soo Ra pergi,atau mungkin kabur?
Yah,setidaknya Soo Ra sudah menjauh dari namja yang hampir membuatnya dikutuk oleh yeoja-yeoja lainnya.

**Park Soo Ra POV**
 Aku membaca setiap tulisan di buku yang berjudul ‘Rumus-rumus Fisika lengkap’.Ini memang sudah kebiasaanku sejak kecil,membaca buku adalah hobiku.Mungkin bagiku perpustakaan adalah rumah keduaku setelah rumah milikku sendiri.
     “kau masih disini Soo Ra?”tanya Han Hye Ah memecahkan kesunyian,aku sontak menghentikan kegiatanku.Hye Ah,sahabatku itu tersenyum pelan.
     “kau memang tidak pernah bosan membaca buku,walaupun sudah sore begini..”gumam Hye Ah pelan.Ia menaruh sebuah coklat batangan diatas meja. “ini untukmu..”kata Hye  Ah.
     “Omo!kenapa?bukannya ini pemberian dari penggemarmu?”tanyaku sedikit kaget.
     “mereka tidak tahu aku sudah mempunyai pacar..jujur aku sudah sangat benci diikuti oleh mereka,diberi coklat,bunga dan lain sebagainya..”jelas gadis cantik itu padaku,Hye Ah memang gadis yang cantik,ia selalu dikejar-kejar oleh para namja-namja disekolahh ini.
Aku hanya mengangguk,kemudian melanjutkan membaca buku.
     “jadi,bagaimana ? apakah kau baru mengerti bahwa Chan Yeol itu tampan sekali?”goda Hye Ah,aku bingung kenapa ia berkata seperti itu.
     “bagaimana gimana?”tanyaku balik.
     “hei.hei..kau ini....kau ini kan baru saja menabrak Chan Yeol Oppa!pasti kau akan mengetahui wajah namja itu.”
Aku hanya diam memandang sahabatku ini.
Ia melanjutkan,”selama ini kau kan selalu di sini,tidak tahu seperti apa keadaan sekolah saat ini..kau tidak tahu gosip disekolah ini,namja yang tampan disekolah ini,bahkan kau belum jatuh cinta..padahal kau itu manis..”seru Hye Ah.
Aku mengerjapkan mataku,Jatuh Cinta?
     “aku tak mengerti cinta..”pelanku sambil acuh tak acuh,jujur aku sedikit ragu mengatakannya.
     “ah..yang benar?”goda Hye Ah semakin menjadi.
     “Hye Ah!!”pekikku berura-pura marah,Hye Ah hanya tertawa.
Yah,apa yang dikatakan Hye Ah tadi memang benar.Aku tidak tahu seperti apa keadaan sekolah saat ini,atau lebih tepatnya tidak mau tahu tentang sekolah ini.
Aku juga tidak mengerti cinta—lebih tepatnya tidak mau tahu menahu tentang cinta—Walaupun aku sering membaca novel yang ber-genre Romance.Tapi aku belum pernah merasakan JATUH CINTA.
Yah,sebenarnya tidak ada satupun yang aku............

**
Masih pagi,aku menghirup  udara dengan senang.Sekolah masih sepi,hanya beberapa yang sudah hadir.Aku senang ketika sekolah seperti ini,aku belum bertemu dengan orang yang mengucilkanku.Yah,setidaknya aku bisa tersenyum lega walau beberapa menit saja.
     “ah.!!kita ketemu lagi!”girang seseorang dari belakang.Aku terdiam penuh bisu,aku tahu ini suara siapa. Aku membalikkan badanku secara perlahan,sejenak aku menahan nafasku.Kulihat Chan Yeol tersenyum padaku,senyumnya sangat tulus.Seolah tak ingin memperlakukan diriku seperti kakak kelas lainnya. Gawat!aku takut ia melihat wajahku yang merah merona hanya karena senyumnya. “kau tahu aku kan?”tanya Chan Yeol padaku.Aku mengangguk pelan,tentu saja aku ingat padanya—karena dia orang yang paling dikenal disekolah ini—Lelaki itu tertawa pelan,tangannya yang mengepal ditaruh didekat bibirnya.
     “ah..am..maaf Oppa?ada perlu apa sama saya?”tanyaku dengan bahasa formal.
Namja itu terdiam sejenak,kemudian ia meronggoh sesuatu dari ranselnya.Ia mengeluarkan sebuah buku tebal—dan aku tahu itu buku siapa—dia tersenyum dan memberikan buku itu padaku,aku saja yang mempunyai buku itu lupa bahwa buku itu hilang.Sepertinya namja itu mendapatkannya ketika kami bertabrakan...
     Sejenak wajahku memerah lagi,mengingat peristiwa (?) ketika kami bertabrakan,itu adalah saat-saat yang paling menyebalkan dalam hidupku,entah kenapa aku bisa tertabrak dengan manusia yang tingginya lebih dari 180 cm itu .
     “maaf..waktu itu kau langsung pergi..”ujar Chan Yeol
aku mengangguk cepat,secepat yang aku bisa.Aku tidak ingin berlama-lama dengan orang ini,jika aku melakukannya tentu saja semua yeoja di sekolah ini mengutukku.Aku berpamitan dan segera pergi.
     “ah.! Wait a minute!”panggil Chan Yeol,aku mengerutu dalam hati.biarkan aku pergi!
     “ya?”tanyaku,tanpa membalikkan badanku,mungkin sedikit keterlaluan.
     “namamu?”tanya Chan Yeol pelan.
Aku terdiam untuk beberapa detik lamanya,sedikit ragu.
     “Soo Ra,Park Soo Ra..”ujarku sambil mengulang pelan.Aku membalikkan wajahku sebentar kemudian tersenyum pelan dan segera pergi dari kawasan ini.Aku tak menyadari bahwa Namja itu sedang membubuhkan senyum dibibirnya.

**Pie Cherry POV**
     Chan Yeol berjalan dengan pelan,ia berjalan melewati beberapa kelas dengan santai tanpa memerdulikan bahwa banyak mata memandangnya dengan terpesona.Namun ia tidak peduli dengan semuanya,entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang membuat ia harus menghindar dari semuanya.
  
     “kau tidak belajar untuk ujian nanti?”tanya BaekHyun pada sahabat karibnya itu.Chan Yeol sibuk menyanyikan beberapa lagu melalui Handsfreenya.Baek Hyun segera mencabut Handsfree dari telinga Chan Yeol,Chan Yeol segera memalingkan wajahnya ke sahabatnya itu. “apa?”tanyanya singkat. “menurutku kau harus belajar mulai dari sekarang..Ujian sebentar lagi tiba..”seru BaekHyun sambil tersenyum penuh kemenangan,Chan Yeol terdiam.Ia mengacak rambutnya,ia baru sadar bahwa Ujian tinggal 2 Minggu lagi. Mata bulat itu segera melihat BaekHyun dengan tatapan Puppy Eyes,seolah mengerti BaekHyun segera menggeleng pelan “belajarlah Chan Yeol.. tidak mungkin aku mengajarimu terus..”ujarnya dengan senyum yang masih terpampang jelas. Chan Yeol segera menarik ranselnya dan bergegas pergi. “Apa boleh buat..”gumam Namja itu.
     “kau mau kemana?”tanya BaekHyun.
     “Perpustakaan..”jawab Chan Yeol dari kejauhan.
**
     Masih dijam yang sama.Soo Ra melepas kacamata baca miliknya yang sudah lama bertengger diwajahnya.Ia menguap pelan,ia merasa sedikit lelah.Tapi rasa lelahnya itu tidak membuat ia harus berhenti membaca buku,gadis itu masih terus membaca seolah membaca adalah salah satu aktivitas terpenting baginya.
 Tiba-tiba sebuah buku bertumpukan di meja milik Soo Ra,Soo Ra sedikit kaget.Ia melihat begitu banyak buku yang ditumpukkan dimejanya,sontak gadis itu menatap peminjam buku itu,matanya segera melebar ketika melihat Chan Yeol berdiri didepannya dengan membawa banyak buku.
“ah!! Soo Ra! Kau rupanya..!”tawa lelaki itu pelan.Soo Ra masih sibuk mengedipkan matanya,terkejut melihat Chan Yeol Oppa menyapanya. Chan Yeol segera menaruh buku-buku itu dimeja dan segera mengambil kursi untuk tempat duduknya.
     “ternyata kau sering disini ya..”
Soo Ra hanya mengangguk,kemudian tersenyum pelan. “O..Oppa kenapa...”
Chan Yeol segera memotongnya, “2 Minggu lagi aku Ujian..aku harus belajar..”ujarnya.
Soo Ra hanya mengangguk mengerti.Selanjutnya hanya ada kesunyian,keduanya ahirnya sibuk membaca buku mereka. Beberapa jam kemudian,Soo Ra merasa kurang konsentrasi dalam membaca ketika mendengar bunyi dengkuran dari Chan Yeol. Gadis itu melirik Chan Yeol Oppa dengan perlahan,ia tersenyum sesaat.
    Chan Yeol tertidur.
Soo Ra melihat jam,sudah menunjukkan pukul 16.27 menit.Gadis itu akan pulang, akan tetapi ia bingung apakah harus meninggalkan Chan Yeol hingga lelaki itu terbangun ketika malam tiba ataukah membangunkan namja itu sekarang. Soo Ra segera mengambil cara yang ke dua,ia sedikit ragu untuk membangunkan kakak kelasnya itu—apalagi laki-laki—Awalnya Soo Ra memanggil nama namja yang sedang tertidur itu,sayangnya ia belum juga bangun.Setelah beberapa menit terdiam dengan sedikitnya akal untuk membangunkan Oppanya itu,Soo Ra masih memanggil Chan Yeol untuk sekian kalinya.Tiba-tiba Namja itu membuka matanya dengan  perlahan,Soo Ra sedikit kaget.
     “aa..am..Chan Yeol Oppa..maaf..aku ingin pulang,jadi aku...”
Chan Yeol tersenyum hangat,membuat Soo Ra berhenti berkata.
     “ya..tidak apa.. terimakasih..”ujarnya lembut,seolah mengetahui semua yang dilakukan SoO Ra tadi.SoO Ra segera membungkuk sebentar lalu berjalan pergi.
**Park Chan Yeol POV**
  Aku membuka pintu perpustakaan dengan perlahan,kulihat seisi perpustakaan kosong kecuali penjaga perpustakaan dan satu orang Gadis yang sudah kukenal baru-baru ini,Soo Ra. Gadis itu menyadari kehadiranku,ia tersenyum kemudian meneruskan membaca bukunya.Entah kenapa aku merasa semangat untuk belajar.
     “buku apa yang kau baca?”tanyaku ketika duduk tepat didepan Soo Ra,yeoja itu terdiam sebentar kemudian berkata “Belajar Matematika..”,kemudian “aku kurang pandai matematika..”tambahnya,aku menahan senyumku. Soo Ra menjadi salah tingkah,ia cepat-cepat menambahkan “emang kenapa kalau aku kurang bisa?”ujarnya dengan sedikit kesal.Aku tersenyum pelan “tidak apa-apa..lanjutkanlah..”kataku sambil membuka buku yang dibaca yeoja itu tadi.Soo Ra hanya terdiam kemudian kembali membaca bukunya.
  Yeoja ini memang beda dari yeoja lainnya..
**
   12 hari sudah setiap sorenya aku belajar di Perpustakaan,Soo Ra tetap sering berada di Perpustakaan,dia selalu berkata “perpustakaan itu adalah rumahku yang kedua..”ujarnya.Aku merasa senang karena ia sudah mulai akrab denganku,ternyata ia adalah gadis yang ramah.
      “Oppa..kemana kau akan kuliah nanti?”tanya Soo Ra,matanya tetap memaku pada buku yang sedang dibacanya.
     “Kyung Hee Cyber Universty..”ujarku pelan.
Soo Ra mengangkat wajahnya,ia mengerjapkan matanya. “kau serius akan kesana?”tanyanya.
Aku mengangguk pelan “kenapa?kau pikir aku tidak cocok masuk universitas yang bagus itu?”tanyaku,mataku memandangnya dengan tajam.
     “tidakk..maksudku..itukan jauh dari sini..”ujar Soo Ra sambil menghembuskan nafas pelan.
     “Ya..aku akan bekerja dan bertempat tinggal di daerah sana..”kataku sambil tersenyum memandang keluar jendela,entah kenapa berat rasanya melihat ekspresi gadis itu.
     “kudengar disana Yeojanya cantik-cantik..”tawa Soo Ra,terlihat sangat manis.
     “apa kau yakin aku akan mendapat pacar disana?”tanyaku sambil tersenyum.
     “tentu saja,kau itu kan populer di sekolah ini..”
     “kau sendiri? Bagaimana?”tanyaku kemudian.
Yeoja manis itu terdiam sejenak,”aku tetap disini..tunggu aku tamat nanti..Hye Ah menyuruhku untuk mencari pacar..tapi aku tak yakin ada orang yang menyukaiku..”pelan Soo Ra sambil tertawa.
     “ohh..menurutku ada yang....” tiba-tiba Soo Ra memotong.
     “yah,jika Ujian ini sudah berahir,mungkin aku akan segera mencari pacar..”canda Soo Ra.
     “Apa?!?”teriakku tidak percaya. Soo Ra terlihat bingung. “ya..aku akan mencari pacar”ujarnya sambil mengulanginya,sebenarnya aku sangat tidak ingin Yeoja itu mengulang kata-katanya tadi.Selanjutnya aku hanya diam.
**Park Soo Ra POV**
     Lelaki itu sudah diam selama 27 menit yang lalu,aku sedikit bingung kenapa Namja itu menjadi pendiam.
     “Soo Ra!!”pekik Hye Ah senang,ia baru saja masuk ke Perpustakaan.Kami berdua serentak memandangnya.Awalnya Hye Ah melihat Chan Yeol kemudian tersenyum menggoda padaku—aku tahu apa yang ia maksudkan—Hye Ah kemudian membuka percakapan.
     “kau mau ikut aku ke acara ulang tahun adiknya San Woo?”tanya Hye Ah sambil menyebut nama pacarnya.Aku hanya diam,terasa sebuah perasaan menyakitkan dalam hatiku.
     “am..sepertinya...tidak..”ujarku sambil tersenyum hambar.
     “aaaah! Benarkah?padahal aku ingin sekali kau datang..”desah Hye Ah padaku,sedangkan Chan Yeol hanya memandang kami berdua. “yasudah..aku pulang dulu ya..”ujar Hye Ah sambil melambaikan tangannya dan segera berlalu.
Chan Yeol memandang wajahku,mungkin ia tahu apa yang sedang aku rasakan.
     “San Woo?”tanya Chan Yeol pelan.
     “ya,dia pacar Hye Ah..”ujarku,kemudian kembali sibuk membaca buku seolah tidak mau tahu tentang semuanya.
     “kau menyukai San Woo..?”tanya Chan Yeol lagi,aku mengangkat wajahku dengan terkejut.
     “apa?”
     “dapatku lihat dari raut wajahmu ketika sahabatmu menyebut nama ‘San Woo’..kau seolah kesal dan benci dengann nama itu,tapi sejujurnya ada perasaan yang menjanggal dihatimu bukan?”tanya Chan Yeol dengan wajah serius,ia memang pandai menebak pikiran seseorang.
Aku tersenyum pasrah.
     “kau bisa katakan padaku..”kata Chan Yeol sambil tersenyum tulus.
Awalnya aku hanya diam,kemudian menarik nafas pelan.
     “aku lebih dulu mengenal San Woo ketika aku masih di bangku Smp..aku sudah lama akrab dengannya..aku....aku...aku juga pernah menyukainya...hingga dikelas kami datang anak baru,Hye Ah...dia memang cantik..dia juga baik padaku..Kami bersahabat..tapi,suatu hari Hye Ah mengatakan padaku bahwa dia menyukai San Woo..awanya aku merasa marah..tapi aku mencoba pasrah,karena dia juga sahabatku..tapi Hye Ah tak pernah tahu jika aku juga menyukai San Woo.....hingga saat itu............San Woo mengatakan sesuatu padaku,ia mengutarakan perasaannya padaku......aku merasa amat senang,tapi....aku juga kasihan dengan Hye Ah......jadi aku.......aku..................menolaknya..dan membiarkan mereka bersama..”aku terdiam kemudian.
     “jadi...Hye Ah sekarang dengan San Woo?”tanya Chan Yeol dengan sedikit kesal.Aku mengangguk sambil tersenyum pelan.
     “Menurutku San Woo yang gagah,tampan dan pintar itu memang cocok dengan Hye Ah yang cantik,pintar dan baik.....sedangkan San Woo tidak cocok denganku,yang serba kekurangan..”ujarku sambil menunduk dan memejamkan mata berharap air mataku tidak berjatuhan.
     “Soo Ra...”panggil Chan Yeol dengan lembut,aku mengangkat wajahku yang selalu tertunduk.
     Butterflies don’t know the color of their wings,but human eyes know how beautifull it is.. Likewise, You don’t know how good you are.but others know that you are special..”
Tak terasa tetesan bening berjatuhan dari pelupuk mataku.Chan Yeol tersenyum sambil mengusap pelan rambutku.
     “Kau tidak seburuk yang kau bayangkan Soo Ra..”


**Author POV**
   3 minggu kemudian..
   Semuanya tertawa dengan riang,ada yang menangis terharu ada juga yang hanya diam.Chan Yeol tersenyum ketika mengetahui bahwa ia telah lulus dan masa SMA nya telah berahir,ia melihat keseisi ruangan.Tidak ada Soo Ra.
Chan Yeol berjalan menjauhi keramaian dan kerumunan.
   Lelaki itu membuka pintu itu secara perlahan,ia melihat Soo Ra berdiri sambil memandang keluar jendela,matanya masih menerawang setiap orang yang ada disana.Gadis itu seolah kesepian.
     “siapa yang kau lihat?”tanya Chan Yeol tiba-tiba.
Gadis itu memandang Chan Yeol dengan kaget,kemudian ia tersenyum. “bukan siapa-siapa..”terang yeoja itu.
     “San Woo?”tanya Chan Yeol dengan hembusan nafas yang seolah......pasrah?
     “mungkin?”
Soo Ra masih sibuk memandang keluar jendela,ia tersenyum.Tiba-tiba ia merasa ada sebuah tangan melingkari tubuhnya dari belakang.
 Chan Yeol mendekapnya dengan erat,seolah ia tak ingin gadis itu pergi ataukah dia yang akan pergi.?
     “O...Oppa?”tanya Soo Ra,wajahnya memerah.
     “tunggu....biarkan seperti ini...sejujurnya aku tak ingin waktu ini berlalu...”pelan Chan Yeol,Soo Ra memegang tangan yang besar itu dengan wajah yang masih merona.
Setelah beberapa menit berlalu,Chan Yeol melepas pelukannya.
     “Soo Ra..jaga dirimu baik-baik ya..!”tawa hambar yang datang dari mulut Chan Yeol,ia kemudian pergi meninggalkan Soo Ra yang masih mencoba mengatur nafasnya.
**
   Chan Yeol berjalan menyusuri teras sekolahnya.Perasaanya sangat susah ia deksripsikan,ia  berharap Soo Ra mengetahui perasaannya,ia tak terlalu berharap gadis itu menerimanya karena gadis itu juga sedang menyukai San Woo walaupun ia tidak tahu apakah bisa. Namja itu berharap Soo Ra tidak pernah lagi mengucilkan dirinya sendiri.Lelaki itu akan pergi,tak akan tahu kapan ia akan bisa bertemu dengan gadis itu.
    Cinta itu tak harus memiliki.
Sebuah sentuhan halus menyentuh badannya.Soo Ra memeluk Chan Yeol dengan erat,walapun ia sedikit susah memeluk tubuh yang super tinggi ini,Chan Yeol terdiam tak terasa wajahnya memerah tanpa sepengetahuannya.
     “Soo Ra..?”tanya Chan Yeol kaget.
     “aku tahu....biarkanlah seperti ini..aku yakin aku akan kesepian jika kau pergi...tak ada lagi yang memberikan semangat...justru hanya kau yang sudah mengisi jiwaku yang sepi...”ujar Soo Ra sambil terisak.
  Chan Yeol hanya diam membiarkan gadis itu menangis memeluknya dari belakang.
Kemudian,Lelaki itu melepas dekapan Soo Ra,ia membalikkan badannya kearah Soo Ra.
     “kalau begitu..kau mau menunggu ‘Oppa’ mu ini,sampai ia kembali lagi?”
Soo Ra tersenyum ditengah isak tangisnya.
     “tentu saja...karena aku adalah Butterfly yang kau inginkan..”

THE END.

Minggu, 17 Juni 2012

Far... Or Near? (by admin Tsuki-K)

Diposkan oleh Kumpulan fanfiction di 01.26 0 komentar
Title : Far... Or Near?
Far... Or Near? (c) Tsuki-K 1412, but Detective Conan (c) Gosho Aoyama
Genre : romance, friendship, hurt
Rated : T
Entah kenapa pengen bikin fic yang genre-nya hurt. Tapi nggak bakal ada chara death, saya paling nggak seneng kalo ada chara death, apalagi chara protagonis. Dan maaf kalau para karakternya jadi OOC banget. Selain itu, alurnya juga kelewat cepet. Cukup deh ya, basa-basinya. Happy reading~
Summary : aku menunggumu, aku merindukanmu. Kapan kamu akan kembali? Aku bukan orang setegar Ran yang bisa menunggu lama...
.

Aku duduk dengan lemas di bangku taman yang sepi ini. Rambutku yang hanya sebahu berkibar pelan karena angin sepoi-sepoi. Disini sangat sunyi. Hening. Kutundukkan kepalaku, kuarahkan tatapan teduhku ke arah sepatu hijau yang kupakai. Aku merasa tenang jika hanya sendiri seperti saat ini. Aku bisa merenungkan sesuatu tanpa harus orang lain tahu. Aku bisa menangis sepuasnya tanpa harus orang lain tahu. Aku cinta sendirian.
“Hahaha...”
Tawa yang begitu riang menyeruak gendang telingaku. Aku mengangkat wajah dan menoleh. Sekelompok anak-anak sedang berjalan bersama dengan pakaian serba putih yang disertai... sabuk. Ada yang berwarna biru, cokelat, dan hitam. Dan aku langsung mengerti, mereka pasti anak-anak..., karate?
“Tak kusangka, aku bisa mengalahkan Kaiwa dari sekolah Misazaki itu!”
“Selamat, kawan. Aku juga berhasil mengalahkan adik Hoshiya yang tangguh itu!”
“Hahaha...”
Anak-anak itu mengobrol dengan bebas sambil berjalan. Semakin lama, tawa mereka semakin samar dan hilang, bersamaan dengan langkah kaki mereka yang semakin cepat, ingin segera menuju ke rumah masing-masing.
Aku tersenyum getir. Mereka tampak begitu riang karena berhasil memenangkan persaingan karate dengan musuhnya di sekolah lain, mungkin.
Sama dengan dia.
“Makoto...”
Tanpa sadar kugumamkan namanya. Kyogoku Makoto. Seorang karateka yang hebat, dan selalu menjuarai berbagai pertandingan. Selain itu... Makoto adalah kekasihku. Semenjak ia menyatakan perasaannya padaku beberapa bulan yang lalu, kami menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Aku masih ingat betapa lembut senyumannya ketika aku menerima cintanya.
Tapi tentu saja aku harus mengerti sesuatu. Ia adalah seorang karateka terkenal. Mau tak mau, aku harus rela jika berpisah dengannya sementara waktu, karena ia selalu berpindah-pindah tempat. Sudah sejak sebulan yang lalu, ketika ia berpamitan padaku. Ia akan segera mengikuti pertandingan di Paris. Jika menang, ia akan lanjut bertanding dengan lawan yang lebih tangguh. Sampai saat ini, Makoto belum juga pulang. Itu artinya, dia selalu menang, bukan?
Padahal baru dua minggu setelah kepulangannya dari Osaka. Tapi, ia sudah pergi lagi, kali ini lebih jauh. Ya, aku hanya berharap, hatimu tidak jauh dengan hatiku.
Kau tahu, Makoto? Disini aku begitu merindukanmu. Merindukan senyummu, merindukan kehangatanmu, merindukan matamu yang menatapku lembut dan penuh kasih sayang, seolah-olah aku adalah barang berharga yang sedikit saja disentuh, akan ternoda dan hancur.
“Makoto... pulanglah,”
Hanya dua kata yang kuucapkan dengan begitu lirih. Hanya aku sendirian disini, tak ada orang lain yang mendengar ini. Ya, aku merasa sedikit bodoh. Ralat, sangat bodoh. Sudah tahu tak ada orang lain, aku malah mengucapkan kata-kata itu.
Air bening perlahan memenuhi kedua pelupuk mataku. Pandanganku mengabur karena banyaknya air yang terbendung di dalam indera penglihatanku ini. Dan akhirnya tetesan air bening menuruni kedua pipiku. Semakin lama, air yang keluar dari mataku semakin deras. Aku terisak. Ya, menangis bisa membuatku lega...
“Sonoko?”
Suara yang terasa familiar itu masuk ke telingaku. Aku mengangkat wajah. Kudapati wajah seorang gadis berambut menyerupai tanduk sedang menatapku sambil tersenyum. Kurasa ia tahu, apa yang kupermasalahkan.
“Eh, ha—halo... Ran...” hanya itu yang keluar dari mulutku.
Aku tak sanggup menghapus air mataku. Ran sudah terlanjur melihatnya. Baiklah, untuk dia saja, sahabatku yang tersayang.
“Menangislah, Sonoko... menangislah. Itu bisa membuatmu lega, bukan? Menangislah...” ucap Ran lembut.
Gadis itu duduk di sebelahku. Aku merasa sangat tenang karena penuturannya barusan. Dia benar-benar gadis yang sangat lembut dan baik hati. Aku bersyukur memiliki sahabat seperti Ran.
Aku terisak semakin kencang. Mataku benar-benar sembab dan memerah. Kepalaku terasa pusing karena terlalu banyak menangis. Tapi itu tak kupedulikan. Saat ini, yang kupikirkan hanya dia, Kyogoku Makoto seorang.
“Ran... aku tidak tahu, bagaimana kalau aku jadi dirimu... sebulan ditinggal oleh Makoto saja, sudah membuatku hampir gila seperti ini. Sementara kau, Ran? Shinichi sudah meninggalkanmu sejak setahun yang lalu... detektif bodoh itu meninggalkanmu, setahun, Ran! Setahun! Kau tak selemah aku, Ran... aku mudah menangis. Ran, kau tegar sekali, ya...”
Gadis itu hanya menatapku lembut. Ia memegang tanganku. Aku balas menggenggamnya erat.
“Sonoko, aku juga lemah... aku pun bisa menangis. Kau pikir, aku tak pernah menangis? Jika iya, jauhkan pikiran konyol itu, Sonoko. Aku juga pernah menangis. Ralat, sering bahkan. Tapi aku berusaha menutupinya agar tak seorangpun tahu. Dan ini hanya akan kubagi denganmu, Sonoko... aku hanya percaya denganmu jika menyangkut hal ini...” Ran tersenyum.
Aku merasa sedikit terkejut. Tak kusangka, selama ini, tawa dan senyumnya hanyalah palsu. Ran yang selalu tampak ceria itu... sebenarnya, begitukah isi hatinya? Seperti itukah? Segelap itu?
“R—Ran...”
Aku memeluknya erat. Tak lama, kurasakan air hangat menetes di pundakku. Itu... air mata Ran. Ran menangis. Bahkan aku baru pernah melihatnya menangis saat ini saja. Dia benar-benar pandai menyembunyikan perasaannya. Aku salut. Sangat salut dengan gadis di pelukanku ini.
Suara isak tangis menembus keheningan taman ini.
Kami menangis bersama.
=-=-=
Sudah dua bulan setengah, sejak aku ditinggal oleh Makoto. Aku merasa sangat kesepian. Aku rindu dengannya. Sangat rindu. Berkali-kali aku berusaha menghubungi ponselnya, tapi nihil. Selalu tak ada jawaban. Ponselnya selalu di-silent.
Where are you, Makoto? I miss you so much... please, come back...’ batinku berbisik lirih.
“Memikirkan Kyogoku lagi, Sonoko?” Ran mengejutkanku dengan senyuman manisnya.
“Eh? R—Ran? Hahaha... um, begitulah...” aku menjawab dengan sedikit gugup.
“Sabarlah, Sonoko... dia pasti akan datang untuk orang yang disayanginya,” Ran menepuk pundakku dengan sangat lembut.
Mau tak mau, wajahku menghangat. “Um... ya, kuharap seperti itu.”
Aku kembali menatap paras manis sahabatku. Senyumnya begitu tulus dan indah. Ia benar-benar pandai menyembunyikan perasaan. Padahal, aku sendiri tahu, dia pun memikirkan si Shinichi—detektif bodoh—itu. Aku benar-benar merasa lemah di hadapan Ran.
Gomen, Sonoko... aku harus pergi. Conan-kun mengajakku pergi ke pesta kembang api untuk malam ini. Sekarang sudah pukul lima lewat. Kau tidak pulang juga?” Ran beranjak dari tempat ia duduk.
“Oh... iya, baiklah. Aku juga akan pulang. Kalau bisa, aku akan pergi ke pesta kembang api itu juga, ya, Ran!” aku ikut beranjak dari tempat dudukku.
Douzo, Sonoko. Tak ada yang melarang. Baiklah, sampai ketemu di pesta kembang api nanti malam! Jaa ne!” Ran melambaikan tangannya padaku, kemudian pergi menuju ke kantor detektif Mouri—rumahnya.
Ya, setidaknya, pesta kembang api malam ini bisa membuatku sedikit lebih tenang. Aku ingin lebih santai saja.
=-=-=
Aku memakai yukata berwarna ungu muda dengan motif bunga sakura. Di bagian pinggang, aku memakai sabuk khusus yukata yang berwarna merah muda. Sandal kayu yang kupakai juga berwarna ungu, namun lebih tua. Aku memakai bando seperti biasanya di rambutku, namun kali ini disertai jepit rambut yang manis.
“Okaa-san, aku berangkat sekarang, ya!” pamitku pada Okaa-san.
“Iya, Sonoko! Hati-hati!” balasnya sambil melambaikan tangan padaku.
Aku mulai berjalan menuju lokasi pesta kembang api. Akhirnya setelah lima menit melangkah, aku menemukannya. Kebetulan sekali, di depan sana ada Ran dan bocah yang tinggal di rumahnya itu. Aku segera menghampirinya.
“Ran!”
Gadis itu menoleh. “Sonoko! Hai.”
“Hai! Kau tampak cantik, Ran.” aku memandang kagum pada Ran yang memakai yukata berwarna biru muda itu.
Ran tersipu. “Ah, bisa saja, kau. Arigatou! Anata wa kawaii, Sonoko.”
“Hehehe, arigatou!” balasku dengan cengiran khas-ku.
Kami mulai berjalan-jalan mengelilingi tempat itu. Yah, selagi menunggu kembang api, kami membeli takoyaki dulu, hitung-hitung untuk mengganjal perut yang sudah lapar.
“Ran-neechan, takoyaki yang kita beli disana benar-benar lezat, ya!” bocah berkacamata itu—Conan, berbicara sambil mengunyah takoyakinya dengan lahap.
“Conan-kun, kan sudah kubilang, jangan makan belepotan...” Ran mendekatkan wajahnya ke wajah bocah itu, lalu mengelap saus takoyaki yang ada di pipi Conan dengan jari telunjuknya.
Perasaanku saja, atau aku memang sempat melihat sedikit rona merah di pipi bocah itu?
“Hm, hahaha,” aku tertawa tertahan. Entah kenapa aku melihat Conan mirip dengan Shinichi.
DUAAAR... DUAAAR...
Aku, Ran dan Conan sontak melirik ke langit. Kembang api diluncurkan dengan susul-menyusul. Begitu banyak dan beraneka ragamnya. Tanpa sadar aku menyunggingkan senyum.
“Bagus, ya...” gumamku.
“Benar.” sepertinya Ran mendengar gumamanku yang cukup pelan itu.
“Ran, aku pergi sebentar, ya. Ingin melihat kembang api dengan lebih dekat, sih,” ucapku sambil melambaikan tangan. “Dah!”
“Ya, cepat kembali, Sonoko!”
Aku sedikit berlari menuju tempat rahasiaku. Ah, itu dia, di sebelah kiri kios kembang api. Tempatnya hijau dan tersembunyi. Aku pun tersenyum dan berhenti berlari. Dengan tenang, aku duduk di rumput hijaunya yang bersih itu. Kembang api begitu terlihat jelas disini. Aku merasa sangat tenang. Tempat ini cukup sunyi dan berada di sebelah sungai yang jernih. Di dalamnya ada ikan hias yang berenang-renang riang, seakan ikut menikmati kembang api yang terus berlomba-lomba meramaikan langit malam Tokyo.
“Sedang bersantai, Sonoko?”
Suara yang familiar itu mengejutkanku. Nafasku tercekat begitu aku melihat sosoknya. Pemuda itu tengah tersenyum sambil menatapku dengan tatapannya yang lembut, yang begitu kurindukan. Senyumnya yang mampu membuatku hampir lupa cara bernafas... dia... ada di depanku? Ini mimpi.
“Makoto... kaukah itu?” akhirnya aku membuka mulut.
“Siapa lagi selain aku, Kyogoku Makoto,” pemuda itu kembali menyunggingkan senyumnya.
Aku mencubit pipiku. Sakit. Aku... aku tidak bermimpi! Makoto ada di hadapanku, Makoto disini!
“Ukh... huwaaa...” kebiasaan cengengku kembali kambuh.
Aku memeluk Makoto dengan erat. Aku tak peduli apa-apa lagi saat ini. Aku benar-benar senang, sangat senang! Air mataku terus mengalir dengan deras.
“Sudah, Sonoko... biarkan aku bernapas dulu,” gurau pemuda itu sambil melepas pelukanku.
“Oh, um, gomen... aku terlalu merindukanmu.” aku melepaskan pelukannya sambil menunduk malu.
“Benarkah? Oh... te—terima kasih, sudah merindukanku,” ucapnya dengan pelan. Pipinya memerah. Ia sedikit memalingkan wajahnya.
“Ya,” aku tersenyum.
“Makoto... kemana saja kau selama ini? Kau membuatku hampir gila dalam dua setengah bulan, kau tahu? Dan bagaimana hasil pertandinganmu?”
Pemuda itu terdiam sejenak mendengar tuturanku.
“Ah, hontou ni gomenasai, Sonoko... tenang saja, aku telah kembali. Aku akan disini bersamamu. Pertandingannya begitu banyak. Aku selalu lolos ke tahap berikutnya karena selalu menang. Dan akhirnya, aku pun memenangkannya. Ini, medali emas milikku. Untukmu, love.” Makoto menunjukkan medali emas yang ada di dalam kantung celananya.
Dan sekali lagi aku merasakan wajahku memanas mendengar panggilannya untukku.
Oh my God! Makoto! Benda ini, kan, berharga sekali untukmu! Aku tidak mau menerimanya!” aku menolak medali emas yang disodorkan oleh Makoto.
“Tidak, tidak, kau harus menerimanya, Sonoko. Kau harus. Saat ini, mungkin aku hanya bisa memberikan medali emas seperti ini. Tapi... tunggulah! Ketika kita beranjak dewasa nanti, aku berjanji akan membelikanmu cincin emas, serta... melamarmu, tentunya...” Makoto tersenyum tulus. Senyuman yang sangat kurindukan.
Wajahku menjadi sumringah mendengar perkataannya. Kembali kupeluk dengan erat bahunya yang hangat itu.
I love you, Makoto!”
Love you, too.”
Malam ini terasa begitu indah. Kembang api seakan menjadi latar kisahku yang sudah dimulai dengan begitu unik ini...
===OWARI===

Selasa, 12 Juni 2012

Fan Fiction Coffe Love #Chapter 2 - Created by Ha.Na

Diposkan oleh Kumpulan fanfiction di 19.40 0 komentar
Tittle                 : Coffe love
Author              : Ha.Na
Main cast         : Kim Ha Na, Choi Minho, Cho Kyuhyun
Sub cast           : Find it
Genre               : Romance, daily activities,
Rate                 : T (13 +)
Length              : Yang pasti pendek.. ._.v
Quote               : I Love coffe, it’s sweety like our love
 Notes               : Annyeong.. Mianhae lama gak lanjutin.. sekalian bikin chapter tiga-nya.. xD Banyak typo.. .-.v

Happy reading ^^
***
----Flashback----
*Author POV*
   “Kyuhyun ah, menyukaimu ” Hye Rin terdiam sejenak, sedaritadi temannya –Kim Ha Na- yang hanya termangu tidak merespon perkataanya.
   "Mwo?" Respon  Ha Na hanya sepatah kata itu. Nadanya terdengar agak…. Sinis?
   Hye Rin menyiritkan alisnya. "Jadi.. Dia belum menyatakan perasaannya?!"
   “Aish, apa-apaan sih?!” Ha Na membantah kesal “Sudah! Aku pulang, annyeong” lanjutnya, lalu berlari pulang. Sudah tampak jelas dari perubahan sifat Ha Na –Menjadi lebih ketus- pasti ia ingin menghindari masalah.
    Lari dan lari.. Tak peduli ke mana, yang diinginkannya adalah berlari dari masalah yang cukup rumit.
Walau dia tahu sebenarnya sudah mustahil.

--Flashback End--
~~~
*Kim Ha Na POV*
   Eomma menatapku khawatir “Tidak apa-apa kau tidak sarapan?” sahutnya, tangan lembutnya menyentuh pundakku.
   “ Kimchi kemarin malam banyak sekali. Aku masih kenyang..Aku ke sekolah dulu ” Sahutku yang tentunya saja… berbohong. Sebenarnya merasa bersalah juga, pasti eomma memasaknnya dengan susah payah. Mian haeyo eomma.
   Rasanya tidak nafsu makan ini membuat tubuhku sedikit lemas.Aish, kenapa aku tidak nafsu makan di saat kegiatanku banyak sekali? Ujian matematika dan fisika, pada jam sekolah terakhir aku harus ikut kegiatan klub, lalu sepulang sekolah bekerja sambilan di Coffe Shop. Memikirkannya saja sudah hampir membuat kepalaku meledak.
   Lorong sekolah masih hening, jelas saja, masih tiga puluh menit lagi sampai waktunya bel berdering. Ah, membosankan! Lebih baik belajar –atau sekedar membaca- di perpustakaan.
   ~
   Dan bukan aku saja yang sudah datang pada jam sepagi ini, namja itu juga sudah datang. Cho Kyuhyun, tampaknya ia sedang sibuk berjibaku dengan buku yang ia pegang. Meja khusus membaca di perpustakaan ini hanya ada satu –tapicukup besar untuk menampung seperempat dari jumlah murid disini-, jadi aku harus duduk satu meja dengannya? Ah, biarlah
   Buku-buku tebal berisi pelajara matematika dan fisika n dalam waktu cepat mampu membuatku merasakan kantuk. Hampir saja aku terlelap jika tidak ada tangan yang menepuk bahuku.
   "Hei, jangan tidur saja.." Suaranya agak berat seperti Minho? Hei, kenapa aku memikirkannya? Aku mengadahkan kepalaku, tidak ada siapa-siapa? Mataku terus mengedarkan pandangan ke segala arah,
   DHEG
Jantungku berdegup dua kali lebih cepat ketika melihat siapa yang berada di belakangku, Cho Kyuhyun. Mukanya yang khas 'evil' itu menatapku sekilas, lalu beralih pada beberapa buku tebal yang kubawa.
   "Masih belajar pelajaran segampang ini? Selama ini kau berada di bulan memangnya?" Tanyanya dengan senyum mengejek -dan evil- nya. Tangannya sudah meraih buku tebal bertuliskan 'Matematika' di sampul depannya.
   "Tak usah sombong! Aku tahu kau murid terpintar di kelas!" Sewotku, dan langsung bergegas pergi. Dari sikapnya begini, kurasa perkataan Hye Rin kemarin -bahwa Kyuhyun menyukaiku- salah.

   *Kyuhyun POV*

   "Tak usah sombong! Aku tahu kau murid terpintar di kelas!"
Ucapannya begitu menyayat hati, oke, aku tahu kalau aku kurang bisa mengendalikan perasaan 'evil'-ku ini, tapi melakukannya di depan seoarang yeoja yang kusukai, membuatku merasa sedih. Jadi aku hanya bisa terpaku saat melihatnya berjalan -setengah berlari- melewatiku.
   ~~~
Akhirnya waktu istirahat datang juga, waktu ujian lama sekali! Perutku sudah terus merajuk minta diisi.

BRUK
"E.. eh.. Mian haeyo.. Buku yang kubawa terlalu banyak.."
Dia kan.... Ha Na?
Tentu saja, sebagian dari tumpukan buku sudah berada di tanganku sekarang. Yap, kesempatan hanya datang sekali
Ha Na menatapku sebentar dengan kedua pipi mungilnya yang memerah, "Ke perpustakaan saja.." Ujarnya pelan sambil memalingkan wajahnya. Sikap salah tingkahnya manis sekali..
   Walau pada akhirnya aku bisa berdua dengannya -itu pun dengan jarak berjauhan, sudah cukup untuk membuatku senang. Ah, entahlah, perasaan ini membuatku bingung sendiri. Aku 'menembak'-nya sekarang?
"Hei Ha Na! Berkatalah sepatah atau dua kata!"
Dia hanya bergeming, tatapannya kosong
"Baiklah aku salah..."
"Sudah, jangan berbasa-basi!"
"Apa maksudmu?!"
"Kau mau mengatakan sesuatu?"
"Sarang..."
Ya, hanya kata Sarang sudah membuatku -apalagi Ha Na- sangat malu, kami berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Entah apa yang kupikirkan, aku tak peduli.  
   Aish, kenapa aku memberitahunya sekarang? 
"Kyuhyun ah...Uhm.. Mian... Aku belum menyukaimu"
Aku menoleh ke arahnya, arah yeoja bertubuh mungil itu berada "Jadi.. Kau menolak?"
"E.. eh?? Aniyo.. Bukan itu.."
"Oh" ada sedikit perasaan lega yang terselip
"Nanti ya? Sepertinya.. ada orang lain juga..."
Sebelum aku sempat merespon apa-apa, dia sudah menyanggah "Tapi aku juga belum menyukainya..."
Aku mendengus pelan, jadi ada orang lain? Siapa?
"Sudah ya.." Aku memutuskan berlalu begitu saja

~~~
*Choi Minho POV*
Walau sudah pulang ke rumah, aku masih memikirkan kejadian tadi
Kyuhyun? Aku tak menyangka salah satu sahabatku yang sering kuajak bermain game itu..
Menyukai Ha Na?

Yah, memang bukan urusanku, tapi kenapa rasanya agak sakit?
Harusnya saat istirahat aku tidak melihat kejadian itu -ketika Kyuhyun dan Ha Na berjalan bersamaan-
Aish, kukirim pesan singkat lewat ponsel saja lah..
Hei, Kyuhyun ah..
Dalam waktu lima menit sudah ada balasan, kupikir selama ini dia hanya main game terus

Mau bertanding game lagi?

Kau tahu Ha Na? Ada yang ingin kukatakan


Ha Na? Yah, aku tahu. Bahkan aku baru menembaknya tadi
Mataku terus tercekat pada pesan itu. Menembaknya?

Kau menyukainya?

Ne

TBC. Tinggalkan jejak.. =w=

 

Minggu, 10 Juni 2012

Winter's Cry

Diposkan oleh Kumpulan fanfiction di 07.33 0 komentar



Tittle : Winter's Cry
Author : Pie Cherry
Main Cast :
  1. -          Park Hye Ri
  2. -         Kim Hyun Seok
  3. -          Choi San woo
  4. -          Han Yuna

Genre : Love Hurt,Sad Romance.
Rating : PG13+
Plot : Park Hye Ri adalah seorang perempuan yang pertama kali berpacaran, ia menempuh segalanya dengan indah bersama kekasih pujaannya yang bernama  Choi San woo, sayangnya semuanya hilang setelah Choi San woo pergi,membuat Park Hye Ri jatuh dalam lubang kegelapannya.Hingga datang Kim Hyun Seok mencoba merubah kehidupan gadis itu.
Note : halo :3 ini fanfic aneh abis buatan saya.. judulnya agak aneh didengar O.od jadi mohon dimaklumi.. oke, happy reading.. RCL ya! (?) 


   *Park Hye Ri POV*


    “Hari ini sangat menyenangkan ya?”Tanya seseorang padaku,aku tersenyum lebar “tentu!kamu benar”ujarku sambil tertawa riang.
Aku mengenggam erat tangan itu,tangan yang hangat.San woo memandangku dengan wajah memerah akibat salju yang dingin. ”dingin sekali..!”ujar San woo menambah erat genggamannya,kami tertawa. Tidak terasa sudah 1 tahun kami bersama,aku tak percaya cinta pertamaku sudah menjadi pacarku selama satu tahun ini. Menurutku San woo adalah lelaki yang sangat baik,ia mengerti denganku,ia selalu ada untukku walaupun ia selalu sibuk sebagai ketua OSIS (the school organization), aku tahu bahwa SMA kami berbeda,dan aku yakin dia tidak akan pernah berpaling dengan perempuan manapun selain aku.
  “kau tahu? cahaya lampu hari ini indah sekali bukan? Membuat salju itu turun perlahan dengan indahnya..”ujar San woo.Aku mengangguk pasti,taman di Seoul saat ini indah dengan salju,beberapa pasangan berjalan menikmati indahnya malam,ada yang duduk seperti kami,ada juga yang bermain bola salju. Sungguh Indah!
            “bagaimana dengan sekolahmu? Menyenangkan?”tanyaku pada San woo. Lelaki itu menganggu riang, “ya,aku suka dengan kegiatanku sebagai penjaga Perpustakaan!!”tawanya,aku tersenyum “benarkah?andaikan aku juga satu sekolah denganmu..” San woo mengenggam tanganku “jangan berpikiran seperti itu Hye Ri… itu tidak ada hubungannya dengan apapun diantara kita..oke?” Aku tersenyum memandang indahnya malam,aku sangat senang disamping San woo hari ini karena sudah berapa lama kami tidak berjumpa akibat sibuknya dan padatnya jadwal sekolah,aku selalu berharap agar dapat satu sekolah dengan San Woo tapi itu tidak mungkin karena satusku yang sederhana tidak cocok bersekolah dengan sekolah San Woo yang terkenal dengan sekolah Elitte,dan mewah.San Woo selalu mencoba menenangkanku,itulah yang aku sukai darinya.

*Choi San Woo POV*


   Aku senang telah berjumpa dengan gadis ini.Gadis cantik yang baik dan selalu mengisi hidupku dengan kebaikannya. Hari ini aku harus dapat menikmati kencan dengan Hye Ri,karena sudah lama kami tidak bertemu,aku sungguh rindu padanya.
 Tiba-tiba Gadis itu menguap,wajar saja sudah jam 9. Hye Ri memang orang yang tidak suka tidak tidur pada jam 9 lewat bahkan lebih,ia selalu tidur pada jam 9 lewat. “kamu mengantuk? Ayo biar aku antar… kamu harus pulang..sudah larut..”ujarku. Hye Ri menggeleng “nanti saja..” tidak biasanya dia seperti ini. “kenapa? Kamu sudah menguap begitu..”ujarku tak percaya. “aku tidak mau melewatkan hari berharga ini hanya karena aku mengantuk.. kumohon sebentar lagi..”ujar gadis itu. Aku terdiam cukup lama,sambil memandang suasana taman yang mulai sepi,Hye Ri menyandarkan kepalanya di pundakku. Ketika waktu telah menunjukkan 09.30 PM aku segera memanggil Hye Ri, tidak ada jawaban. Aku memandangnya, ternyata dia sudah tertidur “ya ampun.. apa ku bilang? Sudah kuduga dia bakal tertidur..”,aku terdiam sejenak tidak mungkin gadis ini tidur semalaman disini,aku hanya memakai motor ….bagaimana ini?.Setelah berpikiran pasti,aku segera mengendong Hye Ri ia tidak sadar aku sedang mengendongnya.”Hye.. Hye Ri….”panggilku,gadis itu setengah sadar,aku kembali memanggil Hye Ri dengan lembut hingga gadis itu membuka matanya,sebenarnya aku takut menganggu tidurnya. “a..ada apa?kenapa kamu…” , “sudahlah..kamu tertidur..ayo kuantar pulang..”ujarku memotong pembicaraan. “tidak apa?aku sangat berat… ayo turunkan aku.. aku takut pundakmu sakit mengendongku..”ujar Hye Ri memandangku,yasudah kalau itu memang kemauannya,Aku kemudian menurunkannya. “terimakasih..”ujar gadis itu lembut.
  Ahirnya kami pulang menggunakan motor,sepanjang perjalanan Hye Ri hanya diam tidak berkutik,biasanya ia selalu berbicara yang lucu denganku.Hingga sampailah kami di rumahnya Hye Ri,aku panggil gadis yang sedang duduk dibelakangku sambil memelukku. Ia kembali tersadar dari tidurnya,aku berkata padanya bahwa dia sudah sampai di rumahnya,ia pun mengangguk. “terimakasih untuk hari ini..”ujarnya sambil tersenyum,manis sekali.
   “ya,sampai jumpa..”ujarku,kemudian mencium keningnya. Entah kenapa rasanya sangat berat meninggalkannya, entah kenapa perasaanku sangat sedih ketika mencium keningnya.
            “sampai jumpa Hye Ri..”ujarku kemudian melesat pergi.



   *Author POV*



   Pagi yang cerah, Hye Ri datang ke sekolah dengan wajah yang berseri-seri. Semalam adalah hal paling menyenangkan dalam hidupnya,ia berharap akan selalu bersama dengan San Woo. “sepertinya kamu sedang senang hari ini..”ujar Yuna,sahabat Hye Ri. “hahahaa.. kamu memang tepat!”ujar Hye Ri sambil tersenyum. “oh Hye Ri ssi.. bagaimana kabarmu?”Tanya Kim Hyun Seok seorang kapten pemain sepak bola dikelas Hye Ri. “aku baik-baik saja.. hey, jangan memanggilku dengan sebutan formal seperti itu..”seru Hye Ri. Hyun Seok tertawa “baiklah.. aku akan memanggilmu Hye Ri saja.. bagaimana?”,Hye Ri mengangguk senang.  “hey, kau sudah siapkan syal untuk pujaan hatimu itu??”Tanya Yuna tiba-tiba,Hye Ri mengangguk mantap. “tentu saja, nanti sore aku akan memberikan syal itu pada San Woo..”.
Yuna Tersenyum senang.
  Hingga ahirnya sore tiba,Hye Ri dan Yuna segera pulang dari sekolah. Tiba-tiba ponsel Hye Ri berbunyi. Gadis itu menjawab telepon,setelah beberapa menit berbicara….
Ponsel itu terjatuh..
            “ada apa Hye Ri??”Tanya Yuna kaget,tiba-tiba Hye Ri menangis sejadi-jadinya. Membuat Yuna bingung, Hyun Seok yang melihat kejadian itu segera mendatangi kerumunan yang melihat keadaan Hye Ri sedang menangis. “ada apa Hye Ri??!!kau tidak apa??”Tanya Hyun Seok gugup, “kumohon…siapa saja.. antar aku ke rumahsakit…!”teriak Hye Ri histeris. Hyun Seok yang melihat kejadian itu segera mengambil kunci sepeda motornya.
            “Hye Ri… biar aku antar kau ke rumah sakit!”ujar Hyun Seok.



  *Kim Hyun Seok POV*


Pagi ini sunggu cerah,membuat salju mengkilat-kilat akibatnya.Aku melihat wajah Hye Ri yang sepertinya sedang senang. Aku pun menyapanya,betapa senangnya ketika ia berbicara dan tersenyum padaku. Hingga sore datang,enah kenapa Hye Ri menangis,ia menangis sejadi-jadinya. Setelah ditanya ada apa dengan dirinya, Hye Ri meminta agar ada yang mau mengantarkannya ke Rumahsakit,aku pun menyutujuinya. Aku pun mengantarkan dia menggunakan sepeda motor milikku,ia secepatnya berlari menyusuri lorong rumah sakit,aku bersama Yuna mencoba mengikutinya.
Hingga ahirnya kami sampai di sebuah ruangan bernomor 145. Kami pun melihat seorang lelaki yang terbaring tidak berdaya. Hampir seluruh badannya diperban,ia tersenyum.




*Choi San Woo POV*


      Ughh..sangat sakit. Aku membuka mataku perlahan,kulihatlah suasana kamar aku yang berbeda dari biasanya,entah kenapa ruangan ini menjadi putih. Kulihatlah Ibuku sedang menangis disampingku,ada apa? Apakah ada yang terjadi padaku?, kenapa seluruh badanku diperban?, apakah…
            “kau sudah sadar San Woo?”Tanya Ibuku dengan wajah sembab. Aku mengangguk “ibu.. apakah ada yang terjadi padaku?”tanyaku pelan. “kamu tertabrak truk… kamu koma selama 5 jam..”ujar Ayahku. Aku pun sadar,aku….aku mencoba menyelamatkan anak kucing yang hampir saja terlanggar, dan ahirnya aku yang terkena imbas nya. Tiba-tiba pintu diketuk, dan kemudian terbuka. Kulihat Hye Ri datang dengan linangan air mata,ia memanggilku sambil menangis. “hei Hye Ri.. sudahlah.. jangan menangis.. jangan cengeng seperti itu..”ujarku pelan. Hye Ri masih menangis,Yuna membujuknya agar berhenti menangis sedangkan lelaki disampingnya hanya terdiam.
            “em.. maaf, mungkin kamu belum mengenalku.. aku Kim Hyun Seok..temannya Hye Ri..”ujar lelaki itu padaku. Aku mengangguk sambil tersenyum, “salam kenal Hyun Seok ssi… aku Choi San Woo..”ujarku. Aku mau menjabat tangannya sayangnya tanganku juga diperban.

** jam 07.30 P.M **
            Hye Ri masih berada disampingku, ia hanya diam dan terkadang menghapus air matanya,aku merasa kesal denganku. Kenapa aku harus menerima kecelakaan ini hingga membuat Hye Ri menangis. Entah kenapa..aku juga ingin menangis, seolah ini adalah hari terahirku bertemu dengan Hye Ri.. seakan aku akan….
            “San Woo.. aku mau ke toilet sebentar, kamu tunggu disini..”kata Hye Ri tiba-tiba. Aku hanya mengangguk. Hye Ri melepas ransel milikknya dan meletaknya dimeja kecil.
Setelah Hye Ri pergi.. Mataku tertuju pada ransel milik pacarku itu. Terseliplah sebuah syal berwarna biru yang bertulisan  ‘Untuk San Woo..’ aku terkejut, ternyata Hye Ri membuat syal biru untuk aku. Aku mencoba mengambil syal itu, sayangnya tanganku tidak sampai,sekali lagi aku mencoba mengambil dan.. mengambil dan……

  
Semuanya terasa gelap.




*Park Hye Ri POV*



   Aku membasuh mataku dengan pelan, kemudian memandang pantulan wajahku di cermin, wajahku sangat kusut. Aku tahu, pasti San Woo sedih melihat aku menangis dari tadi. Aku melihat jam , sudah jam 08.12 menit, aku harus kembali ke ruangan tempat San Woo berada.
Sepanjang jalan,aku melihat langit malam dengan salju yang turun,sangat indah. Tapi menimbulkan kesan kepedihan.
            Aku membuka pintu itu perlahan, tiba-tiba San Woo tidak ada di ranjangnya. “San Woo???!!”tanyaku sambil berteriak,kemana dia pergi?. “San.. Wo……SAN WOOOOO!!!!!!” teriakku setelah melihat San Woo terjatuh tak sadarkan diri sambil memeluk……syal…syal buatanku..! Aku segera memanggil dokter.
Secepat aku bisa, jantungku seolah hilang, mataku gelap dan pikiranku kacau.
  ****
Sudah 5 menit dokter menanggani San Woo. Tapi kamar itu tidak juga terbuka, aku menangis sejadinya. Hingga datanglah Yuna dengan….Hyun Seok? Kenapa dia ada disini?
            “kau tidak apa Hye Ri???”Tanya Yuna kaget dan memelukku.Aku menangis.
Sedangkan Hyun Seok hanya terdiam sambil memandang pintu itu.
  Dokter keluar dari ruangan itu.  Aku menanyakan keadaan San Woo. Dokter menggeleng.
            “maafkan kami… dia sudah tidak dapat ditolong..”
Seakan disambar petir, aku sulit bernafas, badanku bergetar , ke…kenapa?? Kenapa haru San Woo?? Tuhan…
   Kulihat lah San Woo yang terbaring kaku, tangannya yang pucat masih mengenggam erat Syal buatanku itu. Sontak aku menangis , betapa perihnya hidupku. Kenapa ? kenapa San Woo? Kenapa kau harus pergi?? Kenapa ketika kita baru menginjak 1 tahun? Kenapa??!
San Woo sudah tertidur dengan tenang untuk selamanya..
Aku takkan mungkin bisa membangunkannya lagi..
Dia sudah tiada..
Aku sayang kamu San Woo..



*Author POV*



   Hye Ri duduk termenung di taman salju yang indah itu. Matanya memerah akibat menahan tangis itu. Ia masih mengingat sosok San Woo yang tersenyum padanya, tertawa bersamanya , mencium keningnya. Tiba-tiba sebuah tangan yang besar menyentuh pundak Hye Ri.
            “Hyun Seok?”Tanya Hye Ri tidak percaya, kenapa lelaki itu ada disini?
            “ya, ini aku.. kau tidak apa-apa…?”Tanya Hyun Seok ikut duduk disamping Hye Ri.
            “jangan pikirkan aku.. aku baik-baik saja..”ujar Hye Ri pelan. Hyun Seok memandang Hye Ri dengan sedih, perempuan itu hanya berbohong, Hyun Seok tahu bahwa Hye Ri sangat ingin menangis, “ini salahku… kenapa aku membuat Syal itu .. hingga membuat San Woo jatuh hanya karena mengambil …”, Hyun Seok segera memotong pembicaraan “jangan berpikiran seperti itu Hye Ri… itu tidak ada hubungannya dengan apapun antara kau dan San Woo ssi..oke?”ujarnya pelan, Hye Ri terkejut. “dari mana kau dapatkan kalimat itu?”Tanya Hye Ri tidak percaya, ternyata Hyun Seok berkata yang sama dengan apa yang dikatakan San Woo. “apa maksudmu?”Tanya Hyun Seok. Detik kemudian, Hye Ri menangis.
            “kau kenapa? Ada apa?”Tanya Hyun Seok kaget dan sedih.
Tapi Hye Ri hanya menangis tanpa memberikan alasan yang pasti.

***
    “kau mau kemana Hye Ri?”Tanya Yuna pada Hye Ri, Hye Ri  tersenyum “aku mau ke taman.. selagi salju turun..”. Yuna kebingungan, “kenapa?” , Hyun Seok datang tiba-tiba “kau mau kuantar?”Tanya Hyun Seok, “tidak terimakasih Hyun Seok..aku…” , Hyun Seok menekankan kalimatnya “tidak..kau harus kuantar..”. “tapi…” , “Hye Ri.. kau harus diantar..”ujar Yuna menegaskan, Hye Ri terdiam.
            “baiklah..”ujarnya.

   Selama diperjalanan Hye Ri hanya diam, Hyun Seok juga tidak ingin mengajak gadis itu berbicara. Hingga ahirnya mereka sampai di taman yang penih dengan salju,hanya sedikit orang yang datang ke taman itu. Hye Ri duduk di kursi tempat ia pernah duduk bersama San Woo. “kau tidak kedinginan?”Tanya Hyun Seok, Hye Ri menggeleng, gadis itu merasa justru hatinya yang kedinginan.
   Setelah 1 jam berlalu, Hye Ri masih duduk membisu tanpa memikirkan tubuh dan kepalanya yang terkena salju. “ayo pulang..”ajak Hyun Seok , Hyun Seok tidak tahan melihat Hye Ri seperti itu. “sebentar lagi.. kumohon..”ujar Hye Ri masih menatap lurus sepinya taman. Hyun Seok terdiam. “kalau begitu… kau mau main Sketing?selagi sepi..”aja Hyun Seok, “aku tidak pandai main Skating..San Woo pernah mengajarkanku.. tapi aku tidak pandai-pandai juga..”, “ayo kuajarkan.. biar San Woo bangga padamu…”ujar Hyun Seok tiba-tiba. Hye Ri memandang tidak percaya, “kau serius?”Tanya gadis itu, “tentu saja..”jawab Hyun Seok.
Mereka pun bermain Skating, walaupun Hye Ri tidak pandai bermain, tapi ia tertawa senang, mungkin Hyun Seok mencoba menyembuhkan pikiran Hye Ri yang sedang sedih.
Hingga sudah 2 jam mereka bermain, “ayo kita pulang…”ajak Hyun Seok sambil menarik ransel Hye Ri, Hyun Seok tidak berani memegang tangan Hye Ri.

            “baiklah..”Hye Ri terdiam sejenak, “emm.. Hyun Seok..”panggil Hye Ri,Hyun Seok memalingkan badannya “besok ajarkan aku lagi….ya?”seru Hye Ri, “baiklah..”ujar Hyun Seok sambil tersenyum.

  Setiap hari Hyun Seok mengajarkan Hye Ri , Hye Ri merasa terobati walapun ia masih sering mengingat sosok San Woo.
            Hingga cinta itu datang,tanpa mereka sadari..
 **
Hyun Seok duduk di kursi taman, salju turun dengan lambat. Hyun Seok tersenyum melihat Hye Ri tertawa sambil bermain Skating. “kau sudah pandai!”teriak Hyun Seok dari kejauhan. Hye Ri mengangguk senang, “ayo kemari! Kita main sama-sama!”ujar Hye Ri. Hyun Seok segera turun dan bermain bersama Hye Ri mereka berdansa diatas es yang licin. Entah kenapa, mereka terdiam.
            “hari ini sungguh menyenangkan, right?” Tanya Hyun Seok sambil berdansa dengan Hye Ri. Gadis itu hanya terdiam membisu,seolah menangis dalam hati.Tiba-tiba ia melepaskan tangan Hyun Seok dari genggaman, membuat Hyun Seok bingung. “ah.. maaf.. aku..”spontan Hye Ri berlari, Hyun Seok menahannya.”kau mau kemana?”Tanya lelaki itu.
            Hye Ri berkata “itu bukan urusanmu.. em.. maksudku…maaf..jangan pernah mengajakku bermain skate lagi..”, mata Hyun Seok terbelalak. “kenapa?”Tanya Hyun Seok menahan nafasnya. Mata Hye Ri berair, ia mengelapnya “jangan Tanya kenapa…”ujar Hye Ri seolah marah kemudian pergi, sekali lagi Hyun Seok menarik tangan Hye Ri.
            “Hye Ri…!”panggil Hyun Seok dengan lembut,nafas lelaki itu tidak beraturan. Sedangkan Hye Ri hanya diam menunduk.
           
            “maaf……aku mencintai mu…”
Hye Ri terkejut mendengar pernyataan itu, ia segera melepas tangan Hyun Seok dan berlari,meninggalkan lelaki yang terdiam penuh arti.



 *Park Hye Ri POV*



Ya, Hari ini sungguh menyenangkan karena bisa bermain Skate, San Woo pasti bangga padaku! “kau sudah pandai!”teriak Hyun Seok padaku, aku mengangguk “ayo kemari! Kita main sama-sama!”teriakku, Hyun Seok pun ikut bermain. Ia menarikku dan mengajakku untuk berdansa,dan menurutku itu sangat berlebihan. “hari ini sungguh menyenangkan, right?” Tanya Hyun Seok sambil berdansa denganku. Aku hanya terdiam membisu,seolah menangis dalam hatiku, entah kenapa aku merasa kalimat itu sama dengan yang diucapkan San Woo padaku. Aku  melepaskan tangan Hyun Seok dari genggaman, membuat Hyun Seok bingung. “ah.. maaf.. aku..”spontan aku berlari, Hyun Seok menahan.”kau mau kemana?”Tanya lelaki itu.
            Aku berkata “itu bukan urusanmu.. em.. maksudku…maaf..jangan pernah mengajakku bermain skate lagi..”, mata Hyun Seok terbelalak. “kenapa?”Tanya Hyun Seok menahan nafasnya. Aku menjadi benci dengan Hyun Seok“jangan Tanya kenapa…”seruku  marah kemudian pergi, Hyun Seok menarik tanganku.
            “Hye Ri…!”panggil Hyun Seok dengan lembut,nafas lelaki itu tidak beraturan. Sedangkan aku tidak ingin memandang wajahnya.
           
            “maaf……aku mencintai mu…”
Tunggu dulu, apa? Hyun Seok….. mencintai….. kenapa??? ,aku pun melepas tangan Hyun Seok dengan sedih bercampur kesal,senang,marah dan sebagainya.

*Kim Hyun Seok POV*
     “maaf……aku mencintai mu…”ujarku dengan nafas yang tidak beraturan, aku tak tahu pasti apakah Hye Ri akan menjawabnya. Detik kemudian Hye Ri melepas tanganku darinya,ia seolah marah padaku, aku tidak tahu apa salahku.
 Dan ahirnya aku membiarkan gadis itu pergi. Sungguh aku menyesal mengatakan perasaanku pada orang yang sedang kehilangan kekasihnya.
**
  Hari berikutnya,aku tidak pernah lagi berbicara dengan Hye Ri, dan gadis itu juga enggan berbicara denganku. Memang kami tidak mungkin bisa bersama, aku telah menyakiti hati Hye Ri dengan menyukainya, aku tidak menyadari bahwa sesungguhnya Hye Ri masih mencintai pacarnya yang meninggal itu, bodohnya aku.



 *Author POV*                                               

   Tanggal 30 Desember.
Hye Ri duduk melamun diantara semua orang yang berlalu di taman itu, ia sudah mati dengan kehidupannya. Luka di hatinya semakin dalam, ia tidak tahu harus apa lagi.
Hyun Seok berjalan dikerumunan orang di taman itu, ia melamun bahkan ia lupa untuk berjalan kemana. Tanpa pikir panjang ia duduk di kursi yang ada penghuninya, ia tidak peduli kalau orang disebelahnya itu akan marah.
Hye Ri duduk, melihat salju turun dengan lambat, sebentar lagi salju ini akan hilang, ia menyadari ada seorang sedang duduk disampingnya tapi ia tidak menghiraukan.Tiba-tiba Hye Ri terbatuk, membuat Hyun Seok memandangnya dan berkata “ah.. maafkan aku mengambil kursi……..” lelaki itu terdiam. Hye Ri memandang seseorang disampingnya , betapa terkejutnya ia bahwa yang sedang duduk dengannya adalah Hyun Seok! “Hye….Hye Ri..?”Tanya Hyun Seok tidak percaya,Hye Ri menggeleng tidak percaya ia mencoba berdiri dan meninggalkan kursi itu tetapi tangannya ditahan oleh Hyun Seok “tolong..ada yang ingin aku bicarakan denganmu…”ujar Hyun Seok pelan. Hye Ri mengerti ia pun duduk sambil terdiam.
Menit berikutnya, Hyun Seok membuka percakapan.
            “maafkan aku berkata seperti itu padamu..aku tahu aku salah..”ujar Hyun Seok. Hye Ri hanya diam, Hyun Seok melanjutkan “tapi jujur aku sungguh tidak bermaksud mengambilmu setelah San Woo ssi pergi…, dan tolong… aku memang menyayangimu…aku mencintai mu…. Tak usah kau terima pernyataan cintaku ini… biarlah… biarkan aku..”seru Hyun Seok pasrah. Hye Ri menangis perih.
   “bodoh… kenapa kau berkata seperti itu padaku? Seolah kau yang selalu salah..? kenapa?? Kenapa kau buat aku jatuh cinta pada kau?? Justru aku lah yang merasa bersalah Hyun Seok… aku mencintai San Woo… tapi ketika kau hadir …  kau buat semuanya berbeda!! Kau sungguh jahat!! Kenapa aku menyukaimu?? Aku selalu berharap kau tidak menyukaiku agar tidak terjalin cinta ini…. Kenapa Hyun Seok??”teriak Hye Ri sedih. Hyun Seok terdiam penuh arti, Hye Ri menangis.
    “sekarang,.. kumohon… jauhi aku… aku tak mau kau menjadi obat untuk kepergian San Woo.. aku tak ingin… lupakan aku… lupakan!”tangis Hye Ri, ia pun berlari meninggalkan Hyun Seok, Hyun Seok segera mengejar gadis itu.
 Hye Ri berlari tanpa memperdulikan sekitarnya, Hyun Seok berteriak memanggilnya. Akan tetapi gadis itu tidak menghiraukan. “Hye Ri.!!”teriak Hyun Seok, tiba-tiba bunyi klakson truk berbunyi , truk itu melaju dan tak menyadari bahwa ada seorang gadis sedang melewati trotoar dan…
Bunyi yang kuat terdengar di setiap telinga orang-orang yang lewat dan mereka terkejut saat melihat…
Hye Ri penuh dengan simbahan darah..

Hyun Seok berteriak, ia segera berlari kearah Hye Ri yang sedang terbaring bersimbahan darah. Gadis itu memejamkan matanya dengan simbahan darah dari sekujur tubuhnya, Hyun Seok memeluk gadis itu dengan perih, Hyun Seok memanggil nama Hye Ri berkali-kali dan gadis itu tidak menyahut sedikitpun.

 Hyun Seok….. Hye Ri telah pergi…dia mengikuti San Woo… biarkan dia…

 Hyun Seok menangis sejadi-jadinya, Salju-salju turun mencoba membangunkan gadis itu, tapi salju itu hanya dapat menjadi berwarna merah akibat darah yang bersimbah.



The  End..



RCL please ")
 

Our FanFiction ;) Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting